... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ...

Rabu, 09 Maret 2022

[Review buku] SaragaS


Judul: SagaraS
Penulis: @tereliyewriter 
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Dimensi: 384 hlm, 20 cm
ISBN: 9786239726256

#Buku ke-13 dari serial BUMI ini menjawab pertanyaan besar tentang siapa orang tua Ali. Ditemani Batozar, 3 sekawan kembali bertualang di SagaraS, tempat damai di mana penduduk asli klan Bumi berada. Selain sulit memasuki portalnya, mereka pun dihadapkan pada pertarungan hidup-mati melawan 13 Ksatria SagaraS. Di mana 2 di antaranya, sudah tertebak dari awal oleh saya. Ksatria terhebat nomor 1 dan 2.

Hal menarik di buku ini adalah nama para ksatria yang merupakan bagian dari kendaraan: Plat, Jok, Rem, Ban, dan mungkin Eli adalah plesetan dari Oli hehe. Juga sosok Batozar yang membuat saya teringat Sirius Black, ayah baptis Harry Potter. Lumayan memainkan emosi di sini. Serta 3 sekawan itu punya karakter khas, jadi percakapannya malah seru dibanding pertarungannya. Meski di ending, ada tokoh baru lagi yang masuk ke jalinan cerita. Membuat penasaran. Siapakah April?
Tak lupa sindiran khas penulis terhadap kritik sosial yang sedang terjadi, membuat saya tertawa saat tahu siapa yang disindir 😅

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#1hari1tulisan #bacabuku #reviewbuku #resensibuku #tereliye #SaragaS #novel #fantasi

[Review buku] Bibi Gill


Judul: Bibi Gill
Penulis: @tereliyewriter 
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Dimensi: 358 hlm, 20 cm
ISBN: 9786239726249

#Buku ke-12 dari serial BUMI. Membuka kisah langsung, kelanjutan dari buku SI PUTIH. Asal-usul Bibi Gill dan rahasia hidupnya yang terjawab berkat Si Putih. Meski harus mengorbankan kembali teman seperjalanannya, Pak Tua, setelah 3 kali kehilangan hebat (keluarga, sahabat, suami dan anak).

Dari sini, kelak kita akan tahu mengapa Bibi Gill tidak pamer kekuatannya yang hebat. Sebab ia terus fokus menempa diri dan menahan monster dalam hidupnya agar tidak lagi kehilangan hal penting. Diakhiri dengan episode bonus tentang Batozar yang menemukan fakta menarik mengenai Ily. Tentu saja, bersambung ke #novel berikutnya ILY dan ALDEBARAN, tak lupa spin off PROXIMA CENTAURI 1.

Mudah tertebak alurnya, namun tetap menarik bagi saya. Meski memang pangsa pasarnya remaja. Tapi seru sekali membayangkan adegan pertarungan dan keunikan klan beserta distrik di dalamnya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Melatih fokus, konsentrasi itu berarti melatih untuk memahami mesin itu sendiri (baca: tubuh manusia). Bercermin ke diri sendiri. Itu jauh lebih sulit dibanding latihan fisik. Itu membutuhkan proses panjang, hingga seorang petarung bisa memahami tubuhnya dengan baik. Bahkan termasuk untuk seorang pemilik Keturunan Murni sekalipun, tetap butuh waktu." (H 157)

Meta morfillah

#1hari1tulisan #reviewbuku #resensibuku #bacabuku #tereliye #bibigill

Minggu, 06 Maret 2022

[Review buku] Para bajingan yang menyenangkan


Judul: Para bajingan yang menyenangkan
Penulis: @puthutea 
Penerbit: @bukumojok 
Dimensi: vi+178 hlm, 13x20 cm, cetakan ketiga september 2017
ISBN: 9786021318447

Novel yang cocok buat hiburan, apalagi kalau kamu orang jawa. Sebab hampir semuanya percakapan dalam bahasa Jawa. Ada glosariumnya di akhir, tapi emang PR sih buatku yang ga paham banget artinya. Tapi ketawa membayangkan logatnya, teringat teman-teman penulis dan  klub buku Yogya. Jadi kangeen haha

Paling terngakak part Bagor akhirnya puasa, tapi bukanya pakai daging babi. Allahu akbar! Enggak tahu juga, sih, ini #novel #fiksi atau sebagian memang kisah nyata #penulis dengan kelima #kawan judinya (Almarhum Jadek, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe). 

Cara berceritanya asyik, mengalir, alur maju mundur tapi ga bingung. Termasuk novel dewasa ya, soalnya bahasanya memang nganu, sih. Kudu bijak menyikapinya hehe

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#1hari1tulisan #bacabuku #reviewbuku #resensibuku 

Selasa, 14 Juli 2020

[Review buku] Abdul Hamid Ghazi

Judul: Abdul Hamid Ghazi - Benteng terakhir khilafah islamiyah
Penulis: Sayf Muhammad Isa
Penerbit: Ghazi Publishing
Dimensi: 278 h, cetakan pertama 2020
ISBN: 9786025356957

Awal membaca buku ini, ekspektasi saya langsung seru gitu. Bakal fokus membahas tentang keruntuhan khilafah islamiyah. Eh ternyata, dibuka dengan penuturan Sultan Abdul Hamid II yang dipenjara, dan kronologi flashbacknya jauh sekali. Melewati beberapa generasi di atas beliau. Jujur saja, sempat malas melanjutkan. Datar di awal.

Namun karena saya punya prinsip harus selesai #membaca apa pun, semembosankan apa pun, maka saya lanjutkan. Ternyata, mulai seru!

Bahasan utamanya malah tentang #kerajaan #Rusia dan #kelompokhitam . Saya membayangkan seperti film tentang iluminati/freemason. Sebuah kelompok tua yang beraliran #Lucifer /iblis.

Namun ternyata bersambung. Sekuelnya belum ada, so ditunggu saja.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Manusia selayaknya cawan, hanya akan menuangkan apa yang menjadi isi hatinya. Jika hatinya kotor, semanis apapun mulutnya menyembunyikan, kelak, mulut itu sendirilah yang akan membongkarnya." (H.10)

"...orang terbaik untuk suatu jabatan adalah orang yang paling tidak menginginkannya." (H.173)

#reviewbuku

Meta morfillah

Kamis, 12 September 2013

[FF] Perjalanan Cinta & Cita-cita

Paris-Perancis, 2013
Hawa dingin menelisik belakang daun telinga. Keindahan kelap-kelip lampu di menara Eiffel ikut serta menemani malam indah sepasang suami-istri yang sedang berdiri di bawahnya sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba sang istri terkenang kisah enam tahun silam, perbincangan di bawah langit senja benua seberang bersama sang suami, lelaki tercintanya.
“Maafkan aku. Bukan karena aku tidak cinta, tapi kita berbeda, mon chérie [1],” ujar lelaki berambut cepak bernama Ari memegang kedua bahu gadis itu dan menatap matanya tajam.
“Tapi aku yakin kita bisa, bukankah menyatukan perbedaan itu indah?” Tanya gadis itu sambil bercucuran air mata.
“Maaf aku tidak bisa. Mengertilah chérie.”

Berau-Indonesia, 2009
Panas terik yang membakar kulit. Ira berjalan menuju sebuah warung internet untuk melihat pengumuman beasiswa yang ia ajukan. Tuhan benar-benar sedang berbaik hati kala itu. Kerja kerasnya selama setahun, siang-malam membuka kitab kuning berbahasa Inggris berjudul Cliffs TOEFL Preparation Guide dan mendaftar beasiswa ke berbagai universitas di luar negeri akhirnya terbayar dengan sebuah kata “lulus”.
“Semoga semuanya berjalan lancar anakku, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa sama Allah, selalu minta pertolongan-Nya,” kata Ibu sambil menangis memeluk erat Ira.
Malam menjelang keberangkatan, ia merenungi perpisahannya dengan Ari setahun lalu hingga ia bangkit dan ingin melanjutkan hidup dengan pergi meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studynya ke Negara Kanguru.

Selasa, 10 September 2013

[FF] Saksi Mata

Perjalanan jauh antar wilayah itu sangat melelahkan. Aku sampai harus beristirahat di suatu restoran restoran di daerah BSD, Tangerang ini memang mewah sekali. Harganya mahal-mahal, tetapi aku sedang ingin makan di sini walau sampai harus menguras uangku.
            Aku duduk sendiri di sudut restoran dan berhadapan dengan kaca. Beberapa meja di sekitarku terisi oleh pelanggan. Baik pelanggan yang makan sendirian ataupun bersama dengan kenalannya, setiap meja terisi. Restorannya sedang rame di saat waktu makan siang.
            Aku memesan satu paket steak yang dilengkapi dengan salad dan kentang goreng dengan segelas ice cappuccino. Saat aku sedang menunggu pesananku dating, aku mencuri dengar pembicaraan pelanggan lainnya yang berada di seberang mejaku.
            Seorang wanita yang kuyakini usianya lebih tua dariku, berpenampilan begitu biasa saja. Berbalutkan dress panjang berwarna abu-abu, dengan rambut berantakannya yang sedikit memutih dia duduk bersama dengan seorang pria yang sepertinya seusia dengannya. Pria itu memakai topi hitam yang bagian depannya ditekuk, jaket hitam polos yang kerahnya ditegakkan hingga menutupi lehernya. Keduanya duduk dengan tidak tenang, sepertinya sedang ada yang mengawasi mereka atau apalah.

[FF] Lelaki bertopi di ujung senja

Senja itu, ada seorang laki-laki datang. Tiada kata, hanya diam saja. Annisa hanya melihatnya sekilas tanpa ada kata-kata untuknya, lelaki yang baru saja duduk disampingnya.

Annisa memilih untuk berdiam diri di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II. Menikmati senja yang menghantarkan jingga ke peraduan terakhirnya. Menghirup sisa-sisa angin dalam paru-paru. Annisa sedang tak ingin bicara. Dia tidak bisu hanya saja sedang menikmati diam untuk beberapa waktu.

Hingga tiba waktunya, Annisa beranjak pergi. Tak peduli dengan lelaki bertopi yang sudah menemaninya sejak tadi. Lelaki itu pun tak tergerak hati untuk menahannya atau sekadar menanyakan akan kemana dia pergi.

Iya, malam sudah merayap datang. Kini, si lelaki bertopi itu hanya ditemani angin malam yang menusuk-nusuk hingga ke tulangnya.
Beberapa hari berlalu, Annisa kembali ke bandara itu. Dilihatnya lelaki bertopi itu lebih dulu memilih duduk di sana, di tempat mereka bertemu kemarin. Sebotol kopi diseduhnya hingga dasarnya. Annisa datang menghampiri dengan membawa beberapa buku sebagai temannya.

[FF] Membuka Surga

Siang itu, setelah pulang dari sekolah, Fima membongkar celengan plastik miliknya, ia congkel-congkel dengan gunting kecil miliknya. Kamarnya dikunci rapat-rapat, ia tak mau ibunya tahu apa yang dilakukannya. Celengan itu adalah pemberian ibunya dua bulan yang lalu.

“Asik, terima kasih bu. Fima janji akan rajin menabung,” Kata-kata itu kini tinggal kenangan. Janji itu Fima langgar dengan membongkar celengannya. Semua ia lakukan karena terpaksa. Fima melangkah gontai melewati pekarangan rumahnya, ia takut ketahuan ibunya kalau siang-siang keluar. Fima mengeluarkan sepedanya, kakinya menggoes dengan semangat menuju pasar.

Sampailah Fima di depan toko kue. Ia masih duduk di atas sepedanya, kemudian mengeluarkan dan menghitung kembali uangnya, ada tiga lembar uang dua puluh ribu, dan empat uang sepuluh ribu. senyumnya mengembang, keceriaan hadir dalam dirinya saat itu. Tinggal beberapa langkah lagi niatnya akan terwujud.

[FF] Teta

“Aku beruntung bisa ketemu sama kamu ….” Eros menatap tepat di kedua manik mata Teta.

Perempuan berlesung pipi itu tersipu sambil menunduk. Selalu saja kotak kalimat yang dimiliki Eros bisa membuat dirinya malu-malu seperti ini. Betapa dia sangat mengagumi laki-laki di depannya itu.

“Apa yang membuatmu beruntung bertemu denganku?”

Eros tertawa kecil. Rambut ikalnya yang sedikit panjang bergoyang ditiup angin sore. Hari ini rambut gondrongnya dibiarkan bergerak liar tanpa pengikat.
Eros berdehem kecil. “Apa, ya? Hmm—” Mengerling sedikit pada Teta, “mungkin karena kau sangat istimewa, lebih dari yang kau tahu.”

Lagi-lagi Teta tersipu. Meskipun jawaban Eros sama sekali tidak menuntaskan keingintahuannya, tapi tetap saja laki-laki itu bisa membuatnya mati kutu kesekian kalinya.

“Teta …,” panggil Eros. “kamu memang tidak setiap saat mengerti aku, begitupun sebaliknya. Kita masih memiliki banyak kekurangan satu sama lain. Tau apa yang membuatku beruntung bertemu kamu sejak tiga tahun lalu?”

[FF] Menghindar

“Bu, bapak ke mana sih?”

“Kerja lah De, kenapa tiba-tiba kamu nanyain bapak? Biasanya cuek.”

“Aku mau lihat wajah bapak.”

“Ada apa dengan wajah bapak?”

“Aku lupa wajah bapak, Bu. Habis bapak pergi dan pulang saat aku masih tidur.”

Ibu tersentak kaget mendengar perkataan anak gadis bungsunya. Sementara si bungsu berlalu dengan wajahnya yang cemberut. Gadis kecil yang kritis itu jarang berkata, namun tiap kali ia berkata seringkali membuat ibunya terbengong-bengong. Takjub. Antara kepolosan dan kecerdasannya yang melampaui usia si bungsu.

Sebulan kemudian..

[FF] Tentang Pertemuan yang tak pernah salah

Stasiun Senen, Jakarta pukul enam sore tidaklah terlalu ramai. Sandy melihat sekeliling, di setiap sudut stasiun ada saja para penumpang dengan membawa banyak sekali bawaan. Sandy  menertawakan dirinya sendiri, Sandy hanya membawa ransel yang entah isinya apa. Ia tidak peduli.
Sandy memeriksa kembali tiket kereta dengan tujuan Yogyakarta. Sandy akan melarikan diri dari penatnya Jakarta. Jakarta, sudah tidak senyaman dulu.
Dua puluh lima menit sebelum jadwal keberangkatan, kereta datang. Sandy mulai mencari tempat duduknya, gerbong enam dengan nomor kursi 13A.
“Ini gerbong enam, 13A, benar kan?” Sandy heran melihat kursinya sudah ada yang menduduki.
Lelaki berusia kira-kira lebih tua tiga tahun dari Sandy itu menoleh menatap Sandy, Lelaki itu tersenyum “Iya, benar. Maaf saya duduki. Tadi belum ada siapa-siapa, jadi saya duduk  dulu di sini.”

Kalian pernah merasakan bagaimana rasanya nyaman membicarakan segala hal dengan seseorang yang baru saja ditemui? Begitulah.
Kereta mulai jalan perlahan, “Untuk apa perjalanan ini?” Sandy mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia pegang dan sekarang memandang lelaki di depannya.
“Untukku? Aku ingin sebentar saja melarikan diri dari penatnya Jakarta. Bagaimana denganmu?’
“Aku rindu merindukan rasanya untuk pulang..”
“Kau beruntung,”

[FF] Perayaan

“Datanglah, demi penghormatan terhadap masa lalu kita.”

Kalimat gadis di hadapannya bagaikan nyanyian kematian. Sepucuk undangan berwarna ungu dikombinasikan perak menegaskan surat pengantar kematian hati pemuda itu. Desember. Penutup tahun yang sungguh tepat dipilihnya. Segala kisah yang teramu ternyata berakhir seperti ini. Desember datang dengan gontai, meranggaskan pucuk-pucuk harapan dalam diri pemuda itu. Yang tersisa hanyalah keletihan yang tak mampu ia hadapi sendiri, seakan hidup segan mati tak mau. Sementara bagi sang gadis, Desember membawa pucuk yang akan bersemai dan berbunga. Balutan gaun pengantin nan indah, para tamu yang bersulang demi kebahagiaannya, diiringi lagu “From this moment” seperti yang dicitakan sang gadis.

“Kau akan datang, kan?”

“Aku belum tahu.”

“Aku sangat mengharapkan kedatanganmu, Adri. Berbahagialah untukku.”

Undangan.

[FF] Sebut saja namanya Dika

Sebut saja namanya Dika, dia adalah anak yang gagal lulus dalam ujian Nasional SMA 2010, dan sampai sekarang dia tidak melanjutkan sekolah. Berbeda dengan si Joe, anak nomer satu disekolah. Dika dan Joe adalah sahabat mulai kecil, banyak orang yang menyebut mereka saudara kembar. Tata cara bicara dan tata cara berpakaian mereka juga sama.
Setelah pengumuman kelulusan kedekatan mereka mulai berbeda, seperti yang banyak orang sangka, kalau si Joe tidak mau berteman sama anak yang tidak lulus SMA. Beberapa kali Dika sms Joe “joe, kamu dimana?, kamu baik-baik saja?, yuk main.” Tak ada satupun balasan yang diketikan oleh Joe. Dika juga sering mencoba telpon Joe tapi tidak ada respon darinya.
***
Joe telah pergi dari desa dan melanjutkan kuliahnya di ITS, bidang Teknik Industri. sampai dia lulus kuliah, tak pernah menghubungi Dika. Kehidupan Joe sudah mulai berubah lebih nyaman, dengan 2 mobil dan rumah mewah. Joe melihat majalah Francise yang biasanya dia beli tiap bulan, disitu ada sebuah seminar yang sangat menarik hati Joe, dan dia memutuskan untuk mengikuti “seminar Industri cengkeh indonesia bersama Susilo” itu dengan biaya 150000.

[FF] Diorama Cinta

Mata Faris terlihat sangat lelah. Semalam adalah hari yang cukup melelahkan untuknya. Mulai tadi malam Seorang wanita bernama Tera telah resmi menjadi tunangannya dan dua Bulan lagi mereka akan menikah.Faris teringat akan percakapannya semalam dengan Tera."Tera? Apakah benar kau mencintaiku? Pertunangan ini adalah rencana orangtua kita. Apakah kau tidak keberatan sama sekali?" Faris menatap mata Tera."Mengapa di malam pertunangan kita kau menanyakan hal begini? Apa yang kau fikirkan ,Faris? Atau mungkin kau ragu akan perasaanku? Atau..""Bukan. Bukan begitu. Aku tidak ragu sama sekali. Hanya saja.." Faris tak dapat melanjutkan kalimatnya."Aku mencintaimu Faris." Tera tak berani menatap Faris."Baiklah Itu sudah cukup." Dengan lembut Faris menggandeng tangan Tera dan membawanya masuk ke ruangan dimana acara mereka akan segera di mulai.

***

[FF] If You Could See Me Now

Malam itu, Eudia sedang duduk di tengah lapangan sepak bola sambil mendengarkan musik dan menikmati cahaya kunang-kunang. Ia bersama dengan sahabatnya sejak kecil, Ryan. Kedua orang tua mereka juga saling berteman akrab sejak kecil, bahkan ketika mereka sudah memiliki keluarga masing-masing dan memiliki anak. Begitulah persahabatan turun-temurun itu masih tetap terjalin sampai saat ini

Eudia dan Ryan tidak pernah terpisahkan walaupun mereka memiliki hobby dan kegiatan yang berbeda. Bahkan ketika Ryan harus pergi ke sebuah laut di pulau Kalimantan hanya untuk memancing, Eudia tetap setia menemaninya. Begitupun ketika Eudia meminta Ryan menemaninya ke perpustakaan untuk membaca buku, Ryan rela menemaninya selama berjam-jam. Tetapi menurut mereka, tidak ada tempat yang lebih nyaman dan menyenangkan daripada lapangan sepak bola di dekat komplek perumahan mereka.

 “Gimana rasanya masuk kuliah, Di?” Tanya Ryan.

“Nggak seru, Yan. Nggak ada lo sih. Kita kan dari dulu sama-sama, tapi sekarang nggak bisa sama-sama,” jawab Eudia dengan nada sedih dan manja.

[FF] 100 Kata (Dua Alternatif Cerita)

Paradoks (1)
“Anak-anakku, siswa-siswi SMA Anti Korupsi yang Bapak cintai. Kasus korupsi telah merajalela di mana-mana. Para koruptor berkeliaran menggerogoti uang rakyat. Negara ini akan hancur jika korupsi terus menjalar seperti jamur di musim hujan. Dan, ditangan kalianlah negara ini bisa diselamatkan karena kalian siswa-siswi anti korupsi. Ayo pekikkan, ‘KAMI GENERASI ANTI KORUPSI!!!’”
“KAMI GENERASI ANTI KORUPSI!!!” seluruh siswa bersemangat memekikkan kalimat tersebut.
Ritual Senin usai, sang kepsek memanggil ajudannya.
“Tolong jemput dan antarkan anak saya ke sekolahnya, ya! Hmm, pakai mobil sekolah saja. Mobilku masuk bengkel.”
Lalu Sang Kepsek asik berselancar di dunia maya demi melihat hasil pertandingan sepak bola semalam.


Bebas seperti kumpulan balon

Adzan Maghrib berkumandang di sebuah masjid kecil yang terletak di bawah jembatan besi. Adzan memanggil seluruh umat muslim untuk berbondong-bondong menuju masjid kecil itu dengan menuruni tangga kayu yang tinggi dari atas jembatan. Tanpa air PDAM yang mengaliri kampung, mereka tak khawatir dimana mereka akan bersuci. Dengan penuh semangat, mereka berlari menuju sebuah sungai kecil di belakang masjid untuk berwudhu.

Lihatlah anak-anak itu! Mereka hidup dengan kesederhanaan tanpa kemewahan apapun, bebas dan tanpa beban. Sepertinya, mereka telah sedikit melupakan tragedi banjir tahun 2009 lalu yang menghilangkan nyawa sebagian dari keluarga mereka. Tapi ternyata, tidak semua anak mampu melampauinya. Dia Supian, ia kehilangan ayah yang sangat ia cintai. Kini ia hanya tinggal dengan ibunya yang sedang sakit dan kedua adiknya yang masih balita.

Setiap sepulang sekolah, ia pergi ke lahan untuk menjaga padinya yang sedang berbuah dari serangan tikus-tikus lapar. Ia tak pernah mengeluh dan menjalaninya dengan senang hati. Terkadang ia pergi dengan ibu dan kedua adiknya. Tetapi, jika penyakit ibunya sedang kambuh, ia hanya bersama dengan kedua adiknya sambil membawa buku pelajaran. Tak ada sesiapa lagi yang bisa ia andalkan untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Potret rasa

Reslla Aghnaita Chak's photo.
Gambar untuk ide cerita

Gadis itu masih disana. Menatap lurus di hamparan jauh, bening, dan biru. Indah, tak terkira indahnya. Inilah yang selalu kutunggu, pagi-siang-sore-malam.

                “Cekrik!”

                Aku mulai memotretnya.

                Ia object abadi yang selalu kunanti. Tak peduli dari pagi higga pagi lagi.

                “Kinar!” seorang laki-laki dari arah jam dua dari tempatku berdiri sekarang memangilnya. Kulihat Kinar tersenyum pada lelaki itu lalu melambaikan tangannya. Mereka semakin dekat, kemudian saling berbincang. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ini pasti akan lama. Ah, sial.

                “Peng-gang-gu,”

                Kataku pelan menuju ke tempatku duduk tadi, menatap mereka yang sedang asyik berbincang. Kutengguk sisa tengguk kopiku sambil melihat-lihat hasil jepretanku hari ini.

                “Hanya dapat satu foto Kinar, dan…” aku mengernyitkan dahi, menatap bingung pada beberapa hasil jepretanku yang lainnya, “mana mungkin bisa?”


Cerita dari kereta

“Bahkan kau bisa merasa jatuh cinta di atas kereta yang melaju….”
Rene menyodorkan tiket dan KTP-nya kepada penjaga peron stasiun. Lelaki paruh baya itu menerimanya dengan senyum ramah. Rene membalas dengan senyum dan anggukan kecil. Setelah selesai mengecek semuanya, penjaga peron menyilakannya masuk. Setelah berterima kasih, Rene berjalan menuju ruang tunggu.
Jadwal keberangkatan keretanya masih lima belas menit lagi. Dia memilih duduk di ruang tunggu yang kursinya sudah diisi oleh beberapa orang. Untungnya jalanan Jakarta malam ini bisa bermurah hati padanya hingga tidak terlambat sampai ke Stasiun Senen.
Rene menyimpan tas pakaian yang sejak tadi dia jinjing di kursi di sampingnya. Sebuah kotak persegi panjang dia keluarkan dari dalam tasnya. Kotak dengan tinggi tak lebih dari 20 cm. kotaknya terbuat dari bahan plastik bening, dengan tali di bagian atas sebagai pegangan saat kotak itu dijinjing.
Dengan mata berbinar Rene memandangi lima buah boneka teddy bear di dalam kotak itu. Boneka beruang—yang sejak pertama kali dilihatnya di toko boneka kemarin, sudah membuatnya jatuh cinta dan tak berpikir lama untuk membelinya—dengan berbagai pernak-pernik di tubuhnya. Ada yang memegang kukis, memakai topi warna-warni, dan ada pula yang memakai baju penutup warna merah muda.

[FF] Tentang sebuah boneka

Tak ada yang bisa memilih akan diciptakan menjadi apa. Termasuk juga saya. Setelah tahun-tahun sebelumnya menjadi pohon Bulian atau yang memiliki nama ilmiah eusderoxylon zwageri di lereng gunung di daerah Kalimantan sana, kini saya dilahirkan kembali. Kali ini bukan menjadi pohon dengan tinggi 36 meter dan batang yang kokoh dan kuat. Bukan menjadi tumbuhan langka atau tanaman-tanaman hidup lainnya.

Bukan.

Kali ini saya berenkarnasi menjadi sebuah benda mati. Saya bukan lagi pohon kesepian di tengah lereng gunung yang hanya bisa menyaksikan keindahan alam dari tempat yang sama setiap hari. Teman bercerita saya bukan lagi si Akar Karak dengan tinggi 14 meter atau rerumputan di sekeliling tempat saya berdiri dulu.

Kali ini saya bisa jalan ke mana saja. Bisa dibawa dengan enteng, bahkan saya tak lagi sering merasakan kedinginan saat malam hari atau kesunyian yang mencekam seperti dulu. Saya selalu merasa hangat dengan pelukan dan usapan tangan-tangan kecil.