Selamat malam…. Apa kabarmu hari ini, Pak? Maafkan aku yang telah
lama tak mengunjungimu, bahkan menulis surat padamu aku tak pernah lagi.
Ketika aku menuliskan surat ini mungkin engkau sedang tertidur. Bukan
mungkin, tapi kau sudah tertidur, tertidur untuk selamanya di alam sana.
Saat itu 58 tahun dan kau tetap tak pernah letih setiap pagi dengan
kakimu yang semakin hari semakin ringkih mengayuh sepeda belasan kilo
dan harus turun beberapa kali ketika melewati jembatan yang hanya
menggunakan batang kelapa. Belasan kilo itu menjadi dua kali lipat
ketika kau kembali mengayuh sepeda onthel itu menuju peraduanmu
di siang hari. Peraduan yang sebenarnya hanya merupakan rumah papan
dengan atap rumbia yang bahkan saat hujanpun air akan merembes masuk ke
dalam rumah.
Tapi itulah kau, kau yang bahagia dengan kesederhanaanmu. Kau yang
setiap pagi menyapa kami dengan tawamu, yang selalu memulai kelas dengan
cerita-cerita penuh kearifan darimu. Kau yang dipenghujung pensiunmu
malah kembali memilih kelas rendah untuk kau ajar. Kau ajarkan kami
menulis, berhitung, dan juga hal yang paling ku benci, bernyanyi. Ya,
bagiku bernyanyi adalah cuma buat anak TK. Bukan buatku yang sudah
berseragam merah-putih.