... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ...

Kamis, 29 Agustus 2013

[FF] I wanna go home

“Cepetan  Mar!!” teriak  Arya.
“Iya, ini bawaannya berat”.
“Kamu sih kayak cewek, cuma lima harisaja di sana bawaanya sebanyak itu!”
Sambil setangah berlari menyeret koper dengan tangan kiri dan menjinjing kardus di tangan kanannya Damar berusaha mengejar abangnya, Arya yang mulai tak kelihatan di tengah padatnya manusia berlalu-lalang.
“Tiketnya Dik” petugas itu menghardik Arya yang sementara berlari melewati pos pemeriksaan.
“Oh, maaf pak. Saya sedang terburu-buru. Ini dua dengan adik saya yang mmmm…. Nah itu tuh pak yang berbaju biru muda dan berkaca mata” tunjuk Arya
“Oke masuk. Kamu juga masuk “ seru petugas kepada keduanya.
Damar segera berjalan melewati beberapa orang lain yang tengah mengantri dan menyusul abangnya yang sudah berlari duluan ke arah tempat check-in Sriwijaya Air.
“Tolonglah mbak masih ada waktu 5 menit kan sebelum keberangkatan?”, ujar Arya sambil melirik jam tangannya.
“Maaf mas, itu sudah prosedur dari perusahaan kami. Waktu check-in  sudah habis dan pintu pesawat sudah ditutup”, ujar mbak-mbak itu sambil tetap tersenyum.
“Mbak, tolong dong mbak. Ini penerbangan terakhir menuju ke Samarinda hari ini. Kalau saya tidak ikut masa iya besok saya harus berlebaran di Surabaya hanya berdua dengan adik saya”.
“Maaf mas, kami tidak dapat membantu mas lagi. Mas juga sebaiknya segera menyingkir karena kami akan membuka check-in  untuk penumpang tujuan daerah lain”.

[FF] Takkan Lari, Cita-Sita di Kejar

“Aku gak bisa!” pekikku setelah mendengar tawaran Inul tersebut.
“Jadi kamu bisanya apa?” Inul membalikkan badannya. Kini kami berhadap-hadapan dan aku merasa jijik melihat gunungan lemak yang menonjol terjiplak dibalik kaos tipisnya itu.
“aku bisanya  jadi istri yang baik buat suami aku, haahaha” aku menjawab sekenanya sambil pergi menghindari Inul, si Gadis sok seksi.
“WHAT?” Inul mengekoriku tetap dengan gerakan gunungan lemak fleksibelnya. “Berhenti dong, Sita mau kemana? Aku cuma minta kamu ngelakuin hal sepele aja kok, gak lebih! Please.. AKU BUTUH BANGET BANTUAN ENTE!”
Aku masih menghiraukannya, tetap berjalan mantap keluar kamar kost tak tahu arah, yang aku tahu, suara Inul akan jadi cempreng jika dia berteriak.
Inul, teman sebangkuku di masa sekolah dasar datang ke kost, mengacaukan semua rencana liburan yang telah ku susun dari sebulan yang lalu. “Ente kemana besok? Masih nganggur kan Sit? Aku ada kerjaan nih, besok aku ke kost ya!” begitu pesan singkat yang ku terima dari Inul semalam yang tidak ku balas dan Gadis sok seksi itu datang sepagi ini? Jam TUJUH PAGI!
Akhirnya langkahku terhenti di ujung gang kostan, terlihat sekilas Inul tersenyum dan berjalan cepat menyusulku, masih tetap dengan gunungan lemak yang fleksibel.
“Sit..” Inul berhenti sebentar, membenarkan kaos ketatnya “Aku  gak minta kamu macam-macam kok, kamu ikut casting di tempat aku kerja. Ini kan cita-cita kamu dari SD! Kamu gak ingat perjalanan kamu buat ngedapetin cita-cita kamu dari dulu gimana? Mau dibantuin kok gak mau! Ente masih mau jadi artis kan?”

[FF] Strawberry Sweet

Ini strawberry kelima yang masuk mulutnya. Ia seperti tak merasakan masam dari strawberry atau mungkin memang hanya ada rasa manis dalam buah yang sedang ia makan itu? Duduk dekat jendela, dengan mp3 yang terpasang di telinga dan melihat ke arah luar jendela. Entah apa yang ia lihat, selalu seperti itu sejak tadi dan ia menikmatinya. Kurasa...

Aku tak ingin mengganggu dan merusak keheningannya meski aku ingin sekali berbincang untuk sekedar membunuh bosan.
"Hallo. Namanya siapa?" Tiba-tiba dia berseru.
Glek! Suaranya. Akhirnya aku mendengarnya. Lembut. Sayang, dia berbicara pada balita yang berada di kursi seberangnya. Ia baru bertemu dengan anak itu, tapi lihatlah mereka langsung akrab.  Aah, ia begitu ramah meski seringkali dia terdiam setiap waktu. Senyum yang memperlihatkan ia tak merasa terganggu dengan interupsi dalam keheningan dan kesendiriannya. Ia sedikit berbincang dengan ibu si balita sambil selalu tersenyum dan aku menikmati senyum itu.

Tak berapa lama, balita itu kembali ke pangkuan ibunya. Ia kembali membuka kotak bekalnya, ya itu kotak strawberrynya. Ia kembali dalam keheningan bersama lima buah strawberrynya. Masih dengan pandangan keluar tapi kali ini ia tersenyum. Manis.

[FF] Mengejar Waktu

"Astagaaaa.. Udah jam setengah satu kurang sepuluh!" Pekik Robby panik.

"Haduh, gimana nih, kira2 bisa gak yah nyampe jam 12.50 di sana?" Pikirnya dalam hati

Ibu Dini –dosen psikologi perkembangan- sepertinya sedang bersemangat mengajar, kelas yang seharusnya selesai pukul 12 siang itu ternyata tetap berlanjut hingga jarum di jam tangan Robby sudah menunjukkan pukul 12.30. Robby yang sudah gelisah sejak tadi menunggu Bu Dini keluar kelas langsung menyambar tas dan buku dari mejanya kemudian bergegas keluar kelas saat Bu Dini pergi. Ia berlari menuju lift dengan tangannya yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

"Aduhh, mana gue belom sempet beli bekal.. Aah, nanti aja di sana deh," gumamnya setibanya di lobby kampus sambil jalan cepat meninggalkan area kampusnya.

Robby berjalan menuju halte untuk menunggu bus. Sialnya, setelah sampai halte ternyata tidak ada satupun bus incaran Robby yang lewat. Semakin panik, ia memutar otak, memikirkan cara lain untuk sampai ke tempat tujuannya.

[FF] Hidup (?)

"Aduh!" Ia meringis menahan sakit, kemudian membungkuk untuk membekap telapaknya agar darah tak lagi mengucur. Ia kembali menegakkan badannya dan berjalan berjinjit melewati kerikil-kerikil jahat yang tak pernah bersikap baik pada telapaknya.

Ia meletakkan ranting-ranting kayu yang sedari tadi digendongnya. Bergegas menuju kiwan*, buru-buru membasuh darah yang sudah sedikit mengering pada telapaknya.

Ia tak memiliki anak. Suaminya mandul. Kini, suaminya sakit-sakitan, hanya bisa terbaring menungguinya pulang dengan secangkir kopi dan singkong rebus disamping dipan*nya. Sesekali ia mengganti menu singkong rebus dengan pisang goreng yang digoreng tanpa tepung.

Ia duduk disamping ranjang suaminya, mengganti piring kosong dengan piring baru berisi singkong rebus.

Mata suaminya tak lepas dari telapak kakinya yang dibungkus kain seadanya. Seolah matanya berkata, "kakimu kenapa?"

[FF] Perjalanan, Tentang Sebuah Janji dan Cinta

Hari ini telah tiba. Hari di mana aku harus bertemu dengannya. Dia, wanita yang memiliki sorot mata yang tajam, senyum yang manis, dan bulu mata yang lentik. Aku selalu mengingatnya. Entah, inikah yang dinamakan cinta. Ah, aku hanya berlebihan memaknainya. Itu saja.

Dua tahun yang lalu, aku datang kepadanya. Ya, aku datang membawa sebuah janji untuk dapat bersamanya. Dia menolakku. Dia mengatakan tidak mungkin hanya menerima sebuah janji. Ya, aku memang sedikit egois memaksanya menunggu dalam waktu yang cukup lama. Kini, kuingin datang, sekali lagi membawa sebuah janji itu kepadanya . Aku konyol, bukan ?

Ah, aku tidak seharusnya mengingat-ingat hal itu. Sudah saatnya aku duduk manis di sebuah kereta malam, bergerak menuju Kota Kembang, lagi. Aku tidak ingin ditipu malam, aku juga tidak ingin dikalahkan oleh sang waktu. Kali ini, aku pasti bertemu dengannya. Alunan suara jangkrik menemani perjalananku kali ini. Ah, aku hanya dapat membayangkan wajahnya. Wanita yang sudah kutinggalkan pada sebuah janji.

[FF] Perjalanan

Bapakku nomor satu di dunia. Dengan sepeda onthellnya, dia mengantarkanku ke mana pun aku suka. Berdua kami membaca awan di langit, melihat pacet menggelantung di kaki petani, menertawakan siput yang kalah cepat dengan semut, dan hal lainnya.
Berbeda dengan ibuku yang sakit-sakitan, bapak lebih sering menemaniku. Tak pernah absen mengajakku bepergian.
“Bapak mau ke mana?”
“Ibu sakit. Harus ke dokter, Bapak mau antar. Kamu jaga rumah, ya, Nduk.”
Aku mengangguk patuh. Beberapa hari ini ibu terlihat semakin parah dengan sakitnya. Malam yang menggigit seringkali menyebabkan batuknya semakin kencang. Bahkan kudapati saputanganku yang dipinjamnya berlumuran bercak darah.
**
Sebulan sudah bapak bolak-balik ke rumah sakit tempat ibu dirawat. Aku selalu ikut menemani bapak ke rumah sakit, sepulang sekolah. Namun aku tak bertemu dengan ibu. Dilarang sama dokter karena umurku masih sebelas tahun. Takut menular katanya.
“Besok kamu ndak usah ikut, ya, Nduk.”
“Kenapa?”
“Biar bapak sendiri saja yang pergi. Kamu jaga rumah saja ya, jangan nakal.”
Aku kembali mengangguk patuh. Diam dan menelan kekecewaan karena tak disertakan dalam perjalanan bapak.
**
Dari depan gang rumahku, sudah terpasang bendera kuning. Tiba di depan rumah, rumahku telah disesaki oleh tetangga dan orang yang tak kukenal. Mak Ipin, tukang urut di kampung memelukku.
“Yang tabah, ya, Nduk. Urus ibumu dengan baik, jangan nakal.”
Aku menggangguk sembari menahan napas menghirup bau tubuh Mak Ipin yang kurang sedap. Kulihat ibu terbaring lemah di dipan. Tangannya yang tampak seperti tulang belulang memegangi saputangan, menutupi mulutnya, matanya berair. Di lantai bawah terbaring tubuh bapak, tersenyum dan bau kemenyan menguar dari tubuhnya.
Kali ini bapak pergi sendirian, tanpa mengajakku. Untuk pertama kalinya bapak absen.
**


meta morfillah