... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ...

Senin, 17 Juni 2013

[Cerpen] Gembel Gombal

Sumpeh!

Tu orang nggak banget, deh!


Aku bergidig setiap mengingat sosok menyebalkan Galang. Anak baru, pindahan dari Cirebon yang sejak seminggu lalu resmi menjadi penghuni tetap kelas IPA 4, kelasku. Sejak pertama melihatnya, hanya satu kata yang terlintas di pikiranku. Berantakan! Dan kumal!

Baiklah, itu dua kata! Ringisku dalam hati.

Tubuhnya tinggi kurus, kulitnya hitam. Rambutnya nampak agak gondrong dan tidak terurus. Seragam yang dipakainya pun terlihat lusuh, seperti sudah berusia puluhan tahun saking belelnya. Hadeuuh! Nggak  habis pikir. Kok satpam bisa-bisanya ngebolehin anak selecek ini melewati gerbang sekolah?

Helow prens! Gue Galang. Siap jadi idola baru di kelas ini. Don wori bi hepi, meski kesing kw tiga, tapi daleman gue kelas premiun. Nggak percaya? Bagi para cewek, silahkan buktikan sendiri.”

Kalimat perkenalan diucapkannya dengan logat jawa medok, sukses mengundang tawa hampir semua murid di kelas. Tapi hal itu justru membuatku langsung ill feel, secara aku paling anti  sama cowok yang berlagak cool dan sok ganteng. Apalagi kalau tampang  tidak  mendukung macam si Galang ini. Sorry, bukannya menghina. Melihat dia berdiri di depan kelas dengan posisi kaki agak miring sebelah, kedua lengan masuk saku celana, dan kepala yang mengangguk-angguk saat bicara malah membuatnya terlihat seperti orang yang lagi slebor.

Dengan tampang dan gaya seperti itu siap jadi idola baru katanya? Mimpi kaleee!!

Sialnya lagi, tu cowok malah dapet tempat duduk di samping mejaku. Kulihat teman-temanku mengamati dia berjalan untuk duduk di mejanya dengan antusias. Beberapa orang tertawa cekikikan melihat gaya melenggangnya yang  ala model catwalk.

Tepat di sampingku, dia berhenti. Aku mengerutkan kening saat menyadari cowok itu mengamatiku.

Beberapa saat kami berpandangan. Lalu tiba-tiba, sebelah matanya berkedip dan seringaian muncul dari bibirnya yang agak kehitaman.

“Hei, biutipul!”

Mulut itu lalu monyong, mengecup sebelah telapak tangan lalu meniupkannya ke arahku!

Gelak tawa segera tumpah ruah di seluruh ruangan kelas.

Tanpa sadar aku bergidik. Cepat-cepat kualihkan pandangan, tak tahan melihat seringaian genitnya. Di depan kelas, Pak Ganjar, wali kelas kami,  malah nampak ikut terbahak-bahak. Hatiku semakin dongkol.

***


Gembel Gombal.

Itu julukan yang tepat buat Galang.

Gembel karena penampilannya yang super kumal. Gombal karena setiap pagi dia selalu mencemari pendengaran dengan sapaannya yang... Aduuuh, nggak banget!

“Selamat pagiiiii!!”

Suaranya menggelegar menyapa seisi kelas. Lalu dengan gaya catwalknya dia berjalan masuk, menyapa setiap orang yang dia temui.

“Bian,  Morning, Bro! Berapa pun botol parfum yang dikau habiskan pagi ini, tetap tidak akan mengalahkan wanginya hatiku,” sapanya pada Bian yang sedang sibuk menyalin PR dari buku Ario.

“Hai, cantik!” kini dia menyapa Maria yang duduk di bangku kedua dari depan. “Kau nampak mempesona dengan kuncirmu itu. Bikin aku gemaas!!” lengannya terulur seperti hendak menjawil pipi Maria. Sontak gadis itu berkelit sambil melotot.

 “Gugun! Kau memang ganteng, teman. Tapi kegantenganmu itu jadi tidak berarti dengan kedatanganku,”  Galang mengalihkan kegombalannya ke Gugun.

Gugun hanya nyengir. Mulai terbiasa dengan segala omong kosong teman barunya itu.

Dan tibalah Galang di mejaku.

Owh.. Dista yang selalu nampak menawan. Apakah kau tahu? Selalu berada di sampingmu setiap hari membuat hidupku semakin indah, sayang!”

Dia pun melancarkan kedipan mautnya. Membuat aku hampir saja memuntahkan kembali sarapan yang tadi kumakan.

Dan hal itu terjadi setiap hari! Dengan kegombalan yang seringkali berbeda. Ya, setidaknya, dia cukup kreatif saat membuat semua gombalannya itu. Cuma sayang, kekreatifannya tidak berlaku saat pelajaran matematika, fisika, kimia, dan pelajaran lainnya termasuk olah-raga. Mana ada cowok yang menghindar sambil menjerit ketakutan saat bola basket melayang ke arahnya!

Tapi itu sama sekali tidak membuatnya lantas mengurangi kegombalannya dan mulai mengalihkan kekreatifannya itu  ke hal lain yang berhubungan dengan sekolah.

Psst!” suara dari sebelah membuat pikiranku buyar. Hatiku mendadak tidak enak saat terpaksa menoleh.

Galang nampak menyeringai ke arahku.

“Aku ada di sampingmu kok, honey. Jadi jangan melamunkanku sedalam itu!
Sontak wajahku memanas.

Dasar gembel gombal!

***

Penampilan Galang nyaris tidak berubah meskipun sudah hampir sebulan berada di sekolah ini. Bajunya memang tidak lusuh seperti  saat awal masuk. Rupanya waktu itu, rumahnya masih belum rapi dan seragamnya entah berada di mana. Setidaknya itu yang ia katakan pada Pak Ganjar saat guru itu menyinggung masalah pakaian belelnya. Tapi selain seragam, yang lainnya sama sekali tidak berubah. Rambutnya masih terlihat gondrong dan kumal. Entah berapa kali Galang kucing-kucingan dengan guru BP yang  sepertinya sudah sangat gemas ingin memotong rambut kumalnya itu.

Dengan lihainya Galang selalu bisa selamat dari eksekusi si Duet Maut. Julukan yang kami berikan untuk Pak Sarif dan Pak Teguh. Guru BP sekolah kami.

“Ini jimatku!” terangnya saat istirahat siang, sambil menunjuk rambutnya yang super kumal.  Beberapa anak cowok berkerumun di mejanya - yang nota bene berada di samping mejaku - membuatku dengan terpaksa mengungsi ke meja lain. “Kalian tahu, ini modal biar para cewek kelepek-kelepek kalo ngeliat aku,” lanjutnya.

Diam-diam aku meleletkan lidah. Kelepek-kelepek pengen nimpuk?!

Suara protes anak cowok lainnya terdengar.

Beeuh!!  Teu percaya? Ini asli ampuh. Resep paten dari aki aku! Dan sudah terbukti! Andai kalian lihat,  berapa cewek yang histeris saat mereka tahu aku mau pindah ke Bandung.”

Histeris karena mereka kegirangan lo pergi!

Ku gigit Chunky Bar ku yang tinggal setengahnya sambil nyengir.. Teman-teman perempuanku yang lainnya mungkin masih di shalat dzuhur di mesjid sekolah, atau sedang makan siang di kantin. Aku sendiri sedang prei shalat. Dan karena saat istirahat pagi aku sudah kebanyakan jajan, jadinya sekarang malas untuk makan siang. Kuputuskan untuk tinggal di kelas dan berniat meneruskan membaca novel Perahu Kertasnya Dee. Tapi sejak tadi buku itu terbuka begitu saja tanpa aku baca. Aku lebih tertarik mendengar obrolan teman-teman cowokku itu.

“ Kakekku itu hebat! Lebih hebat dari Ki Joko Bodo!” kembali kudengar Galang bersuara. “Jangan pernah berani meragukan kesaktiannya kalau kalian mau selamat.”

Ha! Aku nggak percaya!” Kulirik Edo yang nampak sewot dengan apa yang diceritakan Galang. “Masa cuci rambut sebulan sekali bisa bikin cewek tergila-gila sama kita. Yang ada ngejauhin, kali. Takut sama kutu-kutu yang pastinya asyik hang out di tu kepala!”

“Kalo lo dah berhasil ngegaet satu cewek cakep di sekolah kita, baru gue mau percaya,” kini Bian berkata tenang. Namun jelas sekali ada nada provokasi dalam suaranya.

Beu- beeuuh!!  beuuuuuuh....!!!” kulihat Galang geleng-geleng, berkacak pinggang, menunjuki teman-temannya satu-satu, geleng-geleng kepala lagi, lalu berkacak pinggang lagi. Lagaknya benar-benar seperti seorang bapak yang frustasi menghadapi kebendelan anak-anaknya.

“Nantang nih, ceritanya? Okeh!” Galang mengangguk-angguk dengan percaya diri. “Tempokeun, heu-euh1. Jangankeun hiji2 cewek, semua cewek cakep di sekolah ini pasti tergila-gila sama aku!

Soook laah3! Buktikan!!” yang lainnya ribut memanasi.

“Tapi janji, siah! Kalau aku berhasil menggaet satu cewek saja, kalian semua harus gondrongin tu rambut dan mencucinya cuma sebulan sekali!”

“Siapa takuuut!” para cowok itu menjawab kompak. Terdengar percaya diri.

Cengiranku kian lebar. Terang saja mereka yakin kalau Galang  tidak  akan bisa menang. Hanya cewek stress yang mau sama cowok yang cuci rambutnya cuma sebulan sekali!

***

Jam berikutnya setelah istirahat siang adalah pelajaran musik.

Bu Sania, guru musik kami,  sudah dua kali pertemuan tidak masuk. Menurut kabar, beliau sakit. Alhasil, anak-anak seperti mendapatkan durian runtuh. Tugas yang diberikan untuk merancang sebuah pertunjukkan musik perkusi tak diindahkan. Lantas membuat kehebohan yang luar biasa di ruang musik.

Beberapa anak cowok sibuk berlagak seperti pengamen banci dengan membawa tamborine dan rebana, berkeliling dari satu kumpulan ke kumpulan lain sambil menyanyi tidak jelas. Yang lainnya memukul-mukul jimbe dengan ketukan amburadul. Para cewek, seperti biasa, berkumpul di sudut. Bergosip.

Tiba-tiba Galang melompat menaiki panggung setinggi 30 sentimeter yang memang terpasang di ruang musik yang juga digunakan sekolah untuk ruang pertunjukkan.

Woi! Woii!! Preeeen!!” teriaknya sambil memukul-mukul sebuah rebana besar.

Teriakannya bersaing dengan  gelak tawa dan keriuhan di ruangan itu. Butuh beberapa lama baginya untuk mendapat perhatian yang lain. Baru setelah Arkan menyodorkan mik, anak yang lain bisa mendengarkan suaranya.

Test..test..halow..halow,” Galang mengetuk-ngetuk mik.

“Itu sudah nyala, Lang!” teriak Arkan dari arah audio system.

Tengkyu, Bro!” Galang melambai dengan gaya pejabat.

Helow-helow!! Pren! Denger, nih! Dari pada kita ribut-ribut nggak puguh, mendingan kita nyengnyong.. emhmm nyanyi maksudnya. Karoke..karoke... Mau nggak?”

Nggak ada pengiringnya atuh, Lang!” teriak Siska. “Masa nyanyi nggak dimusikkin? nggak seruu!”

“Musik? Tenaang, cintaku. Serahkan masalah itu pada si Ganteng Galang ini,” jawab Galang masih dengan gaya slengeannya. “Mau nggak?” tawarnya lagi.

“Aku sih mau-mau aja. Lumayankan? dari pada bayar 60 rebu buat karokean?” kini Sascha yang menyahut. “Tapi bener, Lang, maneh4 bisa main musik?”

Euuuh..  Galang tea, atuh!”

Gayanya mengingatkanku pada salah satu tokoh wayang golek. Si Cepot.

Cocok! Pikirku. Wajahnya mendukung.

Setelah semua sepakat, beberapa cowok membantu Galang mempersiapkan keyboard. Begitu siap, acara karokean yang di set seperti acara pemilihan bintang idola itu pun berlangsung. Seperti yang sudah kuduga, acaranya lebih jadi seperti komedi. Tidak ada seorang pun yang bernyanyi dengan benar. Juri yang dipilih malah memberikan komen yang sama sekali tidak penting., yang justru membuat suasana semakin riuh oleh gelak tawa.

Kejutannya adalah, Galang ternyata sangat mahir memainkan jemarinya di atas keyboard! Lagu apapun yang diminta, dapat diiringinya dengan baik. Lagu dangdut, pop, jazz, bahkan lagu India! Wow, sesuatu yang hampir mustahil dapat dilakukan oleh seorang  Galang  jika melihat penampakannya.

Hooiii!! Parah semua, paraaah!!” tiba-tiba Galang menghentak-hentakkan jemarinya di keyboard, membuat bunyi jreeng-jreng yang membuat semua memperhatikan cowok itu. “Betul-betul deh. “Kalau gini, gimana kita mau menang kalau ada pentas seni sekolah? Hadeeuuh, menangis dunia kalau isinya suara cempreng semua!”

“Kayak suara lo bagus aja, Lang!” kekeh Adit.

Galang menyeringai.

Gak tau diaa..,” ujarnya  kemudian. “Mau dengar? Mau dengar?” cowok itu menunjuk ke arah beberapa orang. “Suara Galang Permadi itu nggak ada duanya. Pinalis eks  pektor? Lewaaat!”

“Huuuuuu!!” suara protes kontan riuh terdengar. “Mereka lewat kamu ditendaaanng!!

Gelak tawa kembali terdengar.

“Buktikaaaan!” tiba-tiba teriak Icha. Galang mengangkat sebelah jempolnya ke arah cewek gempal dengan wajah keindo-indoan yang duduk di barisan paling depan.

Oke! Aku bakal nyanyi,” seringainya. Galang  nampak memperbaiki posisi duduk dan mulai menyiapkan jemarinya di atas keyboard. “Lagu ini kupersembahkan khusus untukmu, Icha darling!”

Ukh.. Please deh!

Cibirku sekaligus menahan geli.

Hmm.. coba. Apa benar dia bisa bernyanyi? Rasanya hampir sembilan puluh sembilan persen hasil yang keluar nanti tak akan jauh dari komedi yang akan membuat yang lainnya tertawa dan saling meledek seperti yang sudah-sudah.

Intro lagu Sempurna-nya Andra and the Backbone segera mengalun. Semuanya menanti dengan antusias, meski cengiran sangsi masih menghiasi wajah masing-masing.

Dan saat suaranya mulai mengalun, cengiran itu perlahan hilang. Berganti dengan tatapan takjub yang tidak bisa disembunyikan.

Suara Galang benar-benar menghipnotis semua orang! Dia  menyanyi dengan ringan, sedikit agak serak, namun terkadang juga terdengar sangat lembut. Seperti perpaduan Jason Mraz, Afgan, dan Cakra Khan. Terlebih, caranya bernyanyi sungguh menakjubkan. Membuat lagu yang memang sudah romatis, semakin terasa menghanyutkan.

Tak ada lagi Galang yang slengean dan sedikit slebor di depan sana. Yang ada hanyalah seseorang yang nampak begitu menghayati lagunya, sehingga gestur dan pandangan matanya nampak sangat lembut  dan teduh.

Tiba-tiba saja wajahnya terlihat bersinar di mataku.

Aku mengerjapkan mata. Hmm.. pasti karena pengaruh lagu, pikirku.

Ya, pasti karena itu.

***

Pagi-pagi aku sudah memaki diri sendiri. Sejak mendengar Galang bernyanyi kemarin, suaranya terngiang-ngiang terus di telingaku. Bukan itu saja! Wajahnya, yang nampak bersinar, dengan seenaknya masuk ke dalam mimpi. Membuat mood ku turun dengan drastis saat bangun tadi.

Begitu masuk kelas, segera kusimpan tas di laci meja. Belum begitu banyak orang yang datang. Cuma beberapa yang memang sengaja datang pagi untuk melakukan kegiatan rutin mereka, mencontek PR.

Kukeluarkan buku PR kimia ku. Mengecek apakah sudah aku isi semua atau belum. Otakku tidak pintar-pintar amat. Jadi sesekali aku juga usaha seperti yang lain, meski bentuknya agak berbeda. Aku tidak sepenuhnya mencontek jawaban orang. Yang aku lakukan hanya membandingkan dan memperbaiki jawaban yang berbeda jika contekan itu kudapat dari orang –orang pintar.

Baru saja aku berdiri untuk menghampiri Dudi yang duduk di depan, langkahku terhenti. Jantungku mendadak berdebar kencang.

Heloow, prend! Kalian pasti merindukanku semalam.  Iya, kaaan?”

Aku mencoba meredakan debaran jantung yang tiba-tiba melebihi normal saat mendengar suara Galang.  Kulihat cowok itu masuk dengan gaya catwalknya. Kupaksakan untuk memandanginya. Berharap bisa melihat wajah kumal seperti biasa dan meyakinkan diri kalau wajah bersinar yang kulihat kemarin memang hanya karena pengaruh lagu.

Diam-diam aku mengeluh.

Wajahnya  tidak  berubah. Masih nampak kumal. Tapi sinarnya tidak hilang!  Dan itu membuat dadaku berdebar. Kata ganteng, tiba-tiba melintas di kepala.

Ganteng?! Aku menjerit dalam hati. Tanpa sadar aku memejamkan mata sambil
menggeleng-gelengkan kepala  untuk menghilangkan pemikiran gila itu. Please, deh Dista. Wajah kumel seperti itu kau bilang ganteng?

Saat kubuka mata, wajah yang ingin kusingkirkan malah terpampang tepat di depan wajahku. Lengkap dengan seringaiannya.

“Kenapa, Dista sayang? Pagi-pagi sudah geleng-geleng kaya clubers yang kesiangan.”

Dia sama sekali tidak ganteng!!

Kucoba mensugesti diri sendiri dan kuamati wajah itu lekat-lekat. Berharap mampu melihat wajah aslinya yang kumal tanpa embel-embel ganteng.

Ukh.. kau cantik sekali kalau melotot seperti itu, Sayang,”

Seringaian itu harusnya menyebalkan. Tapi yang kulihat sekarang, malah menawan.

Nafasku tiba-tiba sesak. Aku shock  sendiri dengan pemikiranku. Lebih parahnya lagi, wajahku  mulai terasa memanas. Aku yakin warnanya pun semakin memerah.
Aku mencibir ke arahnya meski dengan jantung yang semakin berdegup kencang. Lalu dengan langkah menghentak, menghambur  ke luar kelas. Niat awalku buat menyamakan PR dengan Dudi buyar sudah.

Sepertinya aku harus segera memeriksakan mataku!

***

Aku memang sudah gila!

Lagi –lagi aku memaki. Berhari-hari aku dilanda galau tingkat dewa. Mencoba mati-matian berperang dengan mata dan hatiku. Menolak mentah-mentah penilaian mereka yang sepakat menyatakan bahwa Galang termasuk sebagai mahluk ganteng.
Tapi indera pengelihatan dan salah satu organ vitalku itu tidak mau diajak bekerja sama. Mataku dengan bandelnya selalu mencari-cari sosok tinggi hitam Galang. Di kantin, di dalam mesjid, di lapangan basket, dengan seenaknya melawan perintah otakku untuk berhenti mencari. Begitu juga hatiku. Kata ganteng dan menawan terus menerus digaungkannya setiap kali aku berfikir tentang Galang.

Duh, Gustiii! Dosaku apa sih?  Sampai-sampai kau jungkir balikkan pandangan mataku dan kau turunkan kriteria ganteng bagiku? Aku, Dista Maharani, yang sejak lahir sampai sekarang hanya mengakui dua orang saja cowok saja,  Anthony Adley-nya Candy-candy dan Lee Min Ho, yang layak disebut ganteng di dunia ini, kini ‘terpaksa’ memasukkan nama Galang Permadi di jajaran daftar cowok ganteng?

Aku bahkan malu mengakui hal itu di depan Ramses, kucing persiaku. Kucing yang sering kujadikan teman curhat jika kebetulan Bunda, Ayah, atau Teh Lana sedang sibuk.

Kesal kutendang bantal stroberi yang sejak tadi kupeluk sampai benda malang itu terlempar ke dekat lemari.

Ini pertama kali aku galau karena cowok. Sekali dua kali memang pernah ngeceng satu atau dua orang  yang aku anggap layak. Tapi tak ada yang bisa sampai membuatku  super galau dan kelabakan seperti ini!

Aduuh, jangan-jangan ini karma gara-gara aku sering nolak cowok? Pikirku. Tapi kemudian kutepis pemikiran itu. Itu kan hak aku, mau nerima pacaran sama mereka atau tidak? Masa aku harus nerima mereka padahal nggak cinta?  Rasanya itu tidak bisa dibilang dosa karena toh, aku menolak mereka dengan baik-baik.

Ukkh!! Pusiiing!!!

Aku melompat bangun. Kulirik jam. Masih jam lima. Suasana rumah sepi. Bunda dan Ayah biasa pulang kerja lewat maghrib nanti. Teh Lana entah pergi kemana. Mungkin masih asyik hang out sama teman-teman kampusnya.

Lebih baik aku nyari novel baru di kamarnya Teh Lana. Kalau tidak salah, kemarin kakakku itu baru memborong beberapa novel di pameran buku.

Kubuka kamar Teh Lana. Aroma mawar dari pewangi yang nempel di dinding langsung menyergap. Langsung aku memburu rak buku yang penuh dengan berbagai bacaan. Seperti diriku, Teh Lana juga maniak baca. Koleksi bukunya jauh lebih banyak dibanding koleksi bukuku. Maklumlah, Teh Lana sudah kuliah sambil nyambi jadi penyiar di salah satu radio swasta, otomatis punya uang saku yang lebih banyak dibanding uang sakuku.

Melewati meja belajarnya mataku tertumbuh pada buku tebal dengan tampilan manis tergeletak  di sana. Hmm.. buku diary!

Pikiran jailku langsung berkelebat. Selama ini Teh Lana paling nggak suka aku ngotak-ngatik privasinya. Termasuk buat ngintip buku diary-nya.

Iya-lah. Mana ada sih orang yang ngasih liat buku diarinya kemana-mana! Aku juga begitu. Suka sebel sama orang yang kepo! Selalu pengen tahu urusan orang.

Aku mencoba menekan kepenasaranku untuk membuka buku diary Teh Lana dan kembali menjelajahi isi rak bukunya. Tapi rupanya daya tarik buku diari berwarna ungu itu jauh lebih besar dibandingkan daya tarik jejeran buku-buku novel di rak.
Cepat aku membalikkan badan dan kembali menghambur ke meja belajar Teh Lana.

He..he.. Siapa suruh naruh diary sembarangan!

Dengan semangat aku membuka lembar demi lembar diary itu. Rupanya Teh Lana sedang jatuh cinta! Hmm.. dia bilang cowoknya ini super duper baik hati, pengertian, romatis, dan segala macam pujian untuk cowok itu dia tulis.

Beeuuh.. bau-baunya yang lagi jatuh cinta kayak begini ini. Serasa nggak ada cowok lain yang ganteng selain cowoknya!

Kutarik selembar foto yang terselip di sana. Foto Teh Lana bersama seorang cowok, yang 99 persen aku yakin kalau itu cowoknya.

Ciyus?! Aku membelalakkan mata.  Ini cowoknya Teh Lana?

Tadinya aku membayangkan cowoknya teh Lana adalah cowok tinggi tegap dengan hidung mancung, mata tajam, dan bibir seksi seperti tampang Bang Aldi, cowok teh Lana yang baru saja diputuskan tiga bulan yang lalu. Tapi cowok yang ada di foto berbeda 180 derajat. Dengan tubuh gempal pendek, mata sipit, dan hidung agak lebar, sangat kontras dengan Teh Lana yang jangkung, langsing, dan putih.

Ah, setidaknya tampangnya lebih menyakinkan dibanding si Gembel Gombal itu! Pikiranku kembali melayang pada Galang.

Ikh.. Kenapa aku kepikiran dia lagi?!

Dengan sewot karena pikiranku kembali dikotori oleh nama Galang,  aku kembali membalik halaman diari dan melanjutkan membaca. Mataku perlahan melebar saat kemudian membaca sebuah paragraf  yang tertuang di sana.

Dear, Diary..
Ternyata, kita tidak membutuhkan laki-laki ganteng atau wanita cantik untuk menjadi pasangan kita. Yang kita butuhkan adalah cinta. Karena dengan cinta, seperti apapun penampilan pasangan kita, maka akan selalu terlihat paling rupawan dan sempurna.

Degg!!

Ingatanku balik lagi pada sosok Galang. Kemudian mengingat apa yang aku rasakan setiap kali bertemu cowok itu akhir-akhir ini. Dadaku yang selalu berdegup kencang, seringaiannya yang semakin terlihat menawan, juga wajahnya yang selalu bersinar. Belum lagi suara dan gayanya bernyanyi, celotehan yang diam-diam selalu aku nanti, atau kekesalan yang tiba-tiba kurasakan setiap mendengar gombalannya untuk cewek lain.

Apakah begini yang namanya jatuh cinta? Kalau memang iya, berarti ini cinta pertamaku, dong?!

Tidak!  Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Bukan! Ini bukan cinta pertama! Cinta pertama yang aku bayangkan bukan seperti ini!

Cowok semenawan Anthony Adley,  atau Lee Min Ho, datang padaku dengan senyum sejuta watt, lalu berlutut seraya menyerahkan buket bunga mawar merah, itulah cinta pertama yang seharusnya! Bukannya Galang Permadi! Dengan tubuh hitam cungkring , rambut kumal, lengkap dengan gombalan yang selalu siap dia lemparkan pada siapa saja yang ditemuinya.

Tidak! Aku tidak rela kalau cinta pertamaku bentuknya seperti itu!!

Panik aku berlari keluar kamar Teh Lana. Lalu mondar-mandir antara ruang tamu dan ruang tengah.

Ini pasti hukuman. Tuhan pasti sedang menghukumku!

Kucoba mengingat dosa apa yang akhir-akhir ini sudah kulakukan dan belum sempat meminta maaf.

Keningku berkerut dalam. Berfikir keras.

Ah!! Aku melonjak saat teringat sesuatu. Waktu itu aku pernah marah sama Bunda gara-gara Bunda tidak sempat membelikan chesee cake yang aku pesan. Ya! Pasti gara-gara itu! Aku harus segera meminta maaf ke Bunda!

Aku tak sabar menunggu Bunda dan Ayah pulang. Teh Lana, yang pulang menjelang maghrib sampai mengernyit heran melihat aku sebentar-sebentar membuka celah gorden dan mengintip ke luar.

“Kamu teh kenapa, Dista? Dari tadi ngintipin terus ke luar. Lagi nunggu seseorang?”

“Kok Bunda lama ya, Teh?” aku mengacuhkan pertanyaannya.

“Ooo, tadi ayah sms. Katanya Bunda sama ayah mau pergi dulu ke syukuran temannya yang mau berangkat haji. Pulangnya agak maleman. Kenapa? Kamu titip sesuatu sama Bunda?”

“Nggak,” gelengku dengan lemas. “Cuma kangen aja,” ujarku lagi menutupi kebenarannya.

“Tumbeen!” kekeh Teh Lana. Aku merengut.

“Emang nggak boleh? Kangen sama Bunda sendiri?”

“Nggak, Cuma tumben aja,” jawab Teh Lana, masih dalam tawanya. Aku mendengus. Ya sudah, paling kalau kayak gini, aku baru bisa bertemu Bunda besok pagi.

Tanpa banyak bicara lagi aku ngeloyor ke kamar. Ada tugas sejarah yang harus aku selesaikan.

Besok pagi saja minta maafnya.

**

Besok paginya aku tidak menemukan Bunda dan Ayah di meja makan.

“Bunda sama ayah masih siap-siap,” jelas Teh Lana. Karena Bunda sibuk siap-siap bekerja di pagi hari, jadi seringnya Teh Lana yang menyediakan sarapan kami. Kalau aku sama Bunda kebetulan libur, giliran kami yang bertugas menyiapkan. Bunda tidak suka memakai jasa asisten pekerjaan rumah tangga karena takut anak-anaknya jadi manja.

Aku pun mulai menyuap nasi goreng yang sudah tersaji. Berharap Bunda segera keluar. Saat aku selesai sarapan, barulah Bunda masuk ruang makan dengan setelan kerja yang sudah rapi. Diiringi ayah di belakangnya.

“Bundaaaaa!”Aku segera menghambur memeluknya. Bunda nampak terkejut.

“Hei, kamu teh kenapa?” ada nada khawatir dalam suara Bunda.”Aya naon?5”

Aku menggeleng cepat. Masih memeluk Bunda.

“Hei, Geulis6. Kunaon ieu teh?7”

Bunda merenggangkan pelukan. Wajah beliau penuh kekhawatiran saat melihat mataku basah.

“Bunda, maafin Dista, ya,” aku sedikit terisak.

“Minta maaf? Emang Dista melakukan kesalahan apa sama Bunda?”

“Waktu itu Dista ngambek gara-gara Bunda lupa ngebeliin chesee cake. Trus juga aku sering ngebantah Bunda. Pokok Bunda maafin Dista, yaa. Dista banyak salah sama Bunda.”

Bunda masih nampak bingung melihatku.

“Bunda maafin Dista, kan?” kutatap wajah Bundaku dengan pandangan memelas.

Ayolah Bunda, maafin Dista. Dista tidak mau Tuhan menghukum Dista dengan membuat si Galang itu jadi ganteng, celotehku dalam hati.

“Tentu saja, Sayang,” akhirnya Bunda tersenyum seraya kembali memelukku. “Asalkan Dista sadar kesalahan apa yang sudah Dista lakukan, dan mau memperbaikinya, Bunda pasti selalu memaafkan Dista.”

Aku tersenyum senang mendengarnya. Kukecup pipi Bunda yang masih terasa halus di usianya yang menjelang 50 tahun.

Aku lalu berbalik untuk memeluk ayah dan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada Bunda. Ayah awalnya hanya tertawa seraya mengelus kepalaku dan menciumnya.

“Ayah mau maafin Dista, kan?” tuntutku.

“Tentu saja, Nona Bandel! Ayah selalu maafin kamu meskipun anak bungsu ayah ini luar biasa bandelnya.”

Aku nyengir, sekaligus lega. Ah, pasti hukuman itu sudah Tuhan cabut sekarang.

Dengan riang gembira aku berangkat ke sekolah. Siap menghadapi si Gembel Gombal.

ayem kaming, ma preeen!!” suara Galang terdengar tak lama setelah aku menyimpan tas di meja.

Deg!!

Ukh, kenapa jantung ini masih saja melompat mendengar suaranya?

Kuatur nafas. Tenang, Dista. Semuanya akan berakhir hari ini.

Kutunggu kemunculannya di pintu dengan penuh antisipasi. Bayangannya mendahului masuk.

Ini dia!

Akhirnya sosok itu muncul dengan sempurna. Aku menahan nafas untuk beberapa saat. Mengamatinya. Namun kemudian mendadak tubuhku lemas seperti tidak bertulang.

Wajahnya masih bersinar dan seringaiannya tetap terlihat menawan.

Tuhaaaan!! Kalau ini bukan hukumanmu, artinyaa.. artinya...

Mataku membeliak penuh horor.

Huaaaa!!!

Rasanya ingin menjerit.

Kenapa kau jatuhkan cinta pertamaku di tempat yang salah, Tuhaaaan!!!

“Tapi janji, siah! Kalau aku berhasil menggaet satu cewek saja, kalian semua harus gondrongin rambut dan cuci rambut cuma sebulan sekali!” Terngiang perkataan Galang waktu itu.

Bayangan semua cowok di sekolah jadi berambut godrong dan kumal langsung menari-nari di pelupuk mata.

Ampuun, Gustiii!

-end-

Bandung, 17 Februari 2013

1Lihat saja.
2satu
3coba saja
4kamu
5Ada apa?
6Cantik
7Kenapa ini?



*Cerita Pendek ini ditulis oleh Happy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar