... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ...

Selasa, 10 September 2013

Kereta Pembawa Pesan

Dania Sunshine's photo.
Gambar untuk ide cerita
Kadang kala, berdiri menunggu itu sangat membosankan. Ya, bosan sekali. Aku sampai lelah berdiri dan kesemutan.Tidak ada bangku, untuk kubisa duduki. Tidak ada apa-apa yang bias dijadikan tempat duduk. Aku lelah berdiri dan menunggu, padahal. Apalagi sendiri.
            Kali ini sedang musim gugur. Di musim ini adalah musim yang paling kusuka. Di mana bunga-bunga berguguran. Peralihan musim panas ke musim dingin. Udaranya sejuk dengan sedikit sentuhan dingin di kulit. Aku paling suka melihat saat bunga-bunga berguguran, membuat jalanan penuh dengan daun yang berguguran.
            Aku sedang berdiri di pinggiran White Bridge. Memandangi dedaunan yang jatuh ke air sungai, lalu mengalir mengikuti arah alirannya. Sungainya jernih sekali. Di sisi kanan kiri sungai, ada banyak pohon dan rerumput hijau. Asri sekali. Aku membiarkan rambut coklat panjangku tersibak karena hembusan anginnya.
            “Catthy!” panggil seseorang dengan suara nyaring. Seseorang itu memangil nama kecilku. Dia melambaikan tangan padaku. “Catherine!”
            Aku menoleh. Ternyata Suzane yang memanggilkku. Perut buncitnya bergerak seperti gelombang saat dia berlari mendekatiku. Lalu dia melebarkan mulutnya.
            “Anthony tidak menerima pesanmu.” Ia berucap dengan napas yang tersenggal-senggal. Lalu dia berusaha menenangkan diri dan mengatur napasnya.
            Aku masih memperhatikannya. Menunggu kelanjutan ucapannya. Seakan mengerti arti pandanganku yang penuh harap, Suzane lalu terkesiap.
            “Anthony tidak menerima pesanmu.” Suzane kembali mengulang ucapannya. Aku mengulai bahuku.
            “Sudah kukirim sejak tiga hari yang lalu padahal,” ucapku dengan sedih sekali. Rasanya aku baru saja dibanting dari langit ke bumi. Sakit.
            “Tapi itu yang ia katakan padaku tadi.”
Aku melirik Suzane, “Kau bertemu dengannya hari ini?”
            “Ya. Dia tidak bilang padamu?”
            Aku terdiam. Cukup lama. Bukan terdiam karena tidak tahu, tetapi terdiam karena marah. Anthony tidak bilang apa-apa pada pesannya yang terakhir minggu lalu. Kalau tahu dia akan ke London, aku pasti tidak akan mengirim pesan padanya. Mengirim pesan saja tidak sampai, sudah pakai kirim kilat padahal.
            “Tidak,” jawabku dengan dingin. Aku masih kecewa mendengar kabar ini.
            “Ya, dia memang sebentar saja. Paling lama sepuluh menit. Hanya berbincang dengan Pak Robin.” Suzane menjelaskan. Dia pasti tahu kalau aku sedang menahan geram.
            “Tapi seharusnya dia bilang padaku. Pesanku sangatlah penting.” Aku tidak bisa menahan diri. Dengan kesal, aku menggerutu. Suzane menyentuh bahuku, dielusnya dengan lembut.
            “Ini mungkin dadakan. Kau tahulah seperti apa Pak Robin kalau sudah memberi perintah. Harus segera.” Suzane menenangkanku.
            “Pesanku sangat penting. Lebih penting daripada perintah Pak Robin.” Aku menggertak. Suzane terlihat kaget, kedua matanya terbuka lebar.

            “Kau sudah telepon ke apartemennya?” Suzane bertanya dengan dahi berkerut. Aku mendesah pelan.
            “Nomor telepon apartemennya mati. Tidak bisa dihubungi.” Wajahku tertunduk sedih. Aku sangat kecewa sekali. Zaman sekarang telepon tidak semua orang atau tempat punya. Sekalinya punya malah mati.
            Lalu Suzane mendesah, “Seandainya sudah ada alat komunikasi yang bisa menyampaikan pesan secepat kilat ya. Lebih cepat daripada surat atau telepon. Bisa digunakan di mana saja.”
            Aku berdiri diam. Lalu kembali menunduk, memandangi aliran air sungai di bawah jembatan. Wajahku terlihat jelek, karena aku sedang cemberut. Aku sangat berharap bisa menyampaikan pesan ini pada Anthony. Dan butuh jawaban atau setidaknya tanggapan dia secepatnya.
            “Ya, kalau saja ada alat komunikasi yang lebih cepat daripada berkirim surat dan telepon.” Wajahku masih cemberut. Suzane berdiri di sampingku. Sambil memperhatikan wajah jelekku.
            Aku dan Suzane berdiri sambil menunduk agak lama. Aku tidak tahu apa yang sedang dilihat dan dipikirkan Suzane. Kalau aku, jelas sedang memikirkan Anthony. Pria yang sangat pintar bersastra kalau sudah menulis.
            “Pernah dengar mitos?” tiba-tiba Suzane membuyarkan pikiranku.
            “Mitos apa?”
            “Kereta Pembawa Pesan?”
            Dahiku berkerut, “Belum. Mitos apa itu. Belum pernah dengar aku.”
            “Hmm,” gumam Suzane sesaat. “Begini, jadi mitos itu berkata. Jika kau ingin mengirim pesan pada pujaan hati tapi pesan tersebut begitu susah dikirim – well, belum ada alat komunikasi yang lebih efisien daripada mengirim surat – maka Kereta Pengirim Pesan adalah jawabannya.”
            “Di mana Kereta Pembawa Pesan itu?”
            Suzane mengangkat bahunya, “Tidak tahu di mana pastinya. Mitos bilang, di mana ada harapan pesan yang ingin disampaikan, maka kereta itu akan datang.”
            Kedua mataku mengerjap cepat, tandanya aku sangat berantusias sekali. “Apa itu kenyataan?”
            Suzane terlihat bingung, dahinya mengekerut dalam, “Apa kau percaya dengan mitos itu, Cathy?”
            “Kalau mitos itu benar, aku jelas harus mempercayainya. Kau kan tahu, kalau aku tidak bisa menghubungi Anthony. Aku hanya punya alamat apartemennya atau tempat kerjanya yang dekat dengan asramamu. Kabar ini harus segera kuberitahukan padanya.” Aku bersikeras. Untung saja Suzane sudah mengenalku sejak lama, jadi dia tidak terlalu kaget dengan kekeras kepalaanku.
            Suzane menghelakan nafasnya, “Kalau begitu coba kau caritahu saja. Aku tidak tahu pasti di mana Kereta Pembawa Pesan itu berada. Mungkin kau bisa googling.”
            Aku lalu diam sesaat. Sepertinya ide Suzane bias dijadikan solusi. Googling saja, maka akan kutemukan cerita mitos itu. Banyak orang yang senang berbagi hal-hal mitos apalagi mitos yang tidak diketahui keabsahannya. Ya, aku akan mencari tahu, mungkin Kereta Pembawa Pesan itu memang benar-benar ada.
            “Terima kasih, Sue.” Lalu aku memeluknya, “Walau itu mitos, aku tetap berharap bisa jadi kenyataan dan satu-satunya cara untukku bisa memberikan kabar kepada Anthony. Terima kasih.” Aku memeluknya dengan erat sekali. Suzane juga balas memelukku.
                                         v 
Kalau kau berharap bahwa aku benar-benar tidak googling, kau salah. Aku benar-benar googling. Namun sayang, cerita tentang mitos Kereta Pembawa Pesan itu susah sekali. Seharian duduk di depan laptop dan menghabiskan bercangkir-cangkir kopi, tetap saja tidak membuahkan hasil. Dari pagi hingga siap berganti hari, bahkan tetap saja tidak ada satu petunjuk pun mengenai Kereta Pembawa Pesan.Aku sudah kehilangan harapan.
             Aku benar-benar sudah kehilangan harapan. Tidak tahu harus mengetik apa untuk bisa menemukan informasi mengenai Kereta Pembawa Pesan itu. Atau memang itu hanya sebuah mitos? Yang tidak relevan dan terbukti kebenarannya? Ah, rasanya aku ingin memaki kasar jika memang kereta itu adalah mitos. Lalu, apa harapanku sekarang agar pesanku cepat sampai pada Anthony? Tidak ada.
            Aku masih duduk dengan lunglai di depan komputer. Memakinkan mouse-scroll up ke halaman internet dengan ogah-ogahan. Masih terus mencoba dan berusaha untuk menemukan kemungkinan cerita mengenai kereta itu. Walau hanya 1% saja. Tapi tetap saja nihil. Tidak ada tanda-tanda catatan mengenai kereta itu. Padahal aku sudah berharap sekali, bahwa akan ada catatan mengenai kereta itu.
            Aku berdoa dalam hati. Sambil memanjatkan doa dengan menggerakan bibirku secara perlahan – berkomat-kamit. Kali ini aku bukan saja berharap, tetapi juga berdoa. Aku sangat berharap pada cerita tentang kereta ini. Sangat.
            Aku kembali menghadapkan wajah ke komputer. Mengarahkan jari jemariku ke keyboard. Kembali mengetik keyword, “Pengirim pesan – Kereta Pembawa Pesan” di google. Keyword ini belum aku coba. Dengan spontan aku mengetik satu kalimat itu di mesin pencari di Google. Tidak ada link atau web yang bisa dijadikan referensi untuk artikel yang kuharapkan. Tetapi ada satu gambar sebuah kereta yang berwarna biru dengan motif bunga-bunga di sepanjang badan kereta. Aku meng-kliknya. Lalu terlihat gambar kereta tersebut dalam ukuran besar.
            Kereta tersebut sama seperti dengan kereta pada umumnya. Yang membedakannya adalah warna dan corak di seluruh badan kereta. Dari gambar terlihat bahwa ini adalah kereta khusus wanita. Karena terlihat cantik dan berwarna-warni untuk motif bunganya. Ada catatan di bagian bawah kereta. Agak kecil. Aku harus menyipitkan mataku dan mendekatkan wajahku ke komputer. Di situ tertulis wilayah Birmingham, di  New Street, Inggris. Cukup jauh dariku yang berada di daerah London. Ada catatan kecil lainnya yang bertuliskan :
            “Siapapun yang membutuhkan Kereta Pembawa Pesan, maka kereta itu akan ada. Datang dan bawa pesanmu, kereta akan mengirimkannya secepat kilat.”
            Aku tersenyum lebar. Walau tempatnya terbilang jauh, namun, aku tidak mempermasalahkannya. Ya, Kereta Pembawa Pesan memang berpegangan pada harapan. Harapanku sudah terkabul saja, sudah membuatku senang. Sekarang tinggal menyusun rencana untuk bisa ke sana dalam waktu satu hari lalu mengirimkan pesanku.
            “Aha! Ini dia. Kereta Pembawa Pesan! Akhirnya aku menemukanmu.” Aku menyunggingkan senyuman lebar sekali, sambil melompat kegirangan.
                                         v 
Aku berangkat setelah subuh. Langit bahkan masih gelap. Jalanan masih sepi sekali. Seperti tidak ada kehidupan. Aku memakai jaket tebal hitamku. Membiarkan rambut coklatku yang sebahu tergerai. Dan celana panjang – bulu di kakiku sudah meremang kedinginan. Aku sudah siap menjalankan perjalanan panjang ke Birmingham. Bisa memakan waktu beberapa jam, jika tidak macet.
            Dari London ke Birmingham terbilang cepat. Hanya butuh waktu satu sampai dua jam saja. Aku sudah membeli tiket Virgin Train’s dengan harga yang kuharap pantas untuk perjuanganku demi Kereta Pembawa Pesan itu.
            Aku menyumbat kedua telingaku dengan earphone. Alunan musik British yang khas dan kental dengan aksen suara kuno itu membuatku tertidur pulas. Aku bisa bertahan lama sambil memandang ke jendela untuk sekedar mengintip pemandangan di luar sana. Karena aku tidak mau kehilangan kesempatan ini, jadi kubiarkan kedua mataku terbuka lebar. Mengamati sepanjang jalan dengan seksama. Agar tidak terlewatkan stasiun kereta menuju kota Birmingham.
            Perjalanan tidak membosankan, karena aku memperhatikan semua gerak gerik penumpang. Tidak ada banyak penumpang, tetapi mereka cukup menarik perhatianku. Ada yang sibuk dengan laptop sambil menelepon seseorang, mungkin rekan kerjanya. Ada pula sepasang kekasih yang sedang berbicara dengan seriusnya. Ada juga sekeluarga lengkap dengan anak-anak mereka yang berlarian di lorong kereta. Sedangkan aku, hanya memperhatikan sambil tersenyum manis. Hingga akhirnya aku tiba di Birmingham New Street.
            Saat aku tiba di Birmingham New Street, aku tercengang. Birmingham New Street Railway adalah stasiun kereta api yang terbesar dan tersibuk di Birmingham. Karena stasiun kereta ini adalah layanan utama bagi jalur Virgin Train. Jadi, bagaimana mungkin mitos Kereta Pembawa Pesan itu ada di stasiun ini? Ini pasti benar-benar mitos, pikirku.
            Banyak kereta berlalu lalang di stasiun ini. Kereta tercepat berlalu di depanku. Namun, tidak ada kereta berwarna biru dengan motif bunga-bunga di sepanjang badan kereta. Terlalu ramai dengan orang-orang yang siap menaiki kereta menuju kota besar lainnya. Jadi, Kereta Pembawa Pesan itu pasti benar mitos. Padahal aku sudah membawa suratku dengan harapan yang besar, kereta tersebut akan menyampaikan suratku pada Anthony. Wajahku tertunduk. Ada rasa kecewa hadir dalam hatiku.
            Jam pas dua belas siang. Aku sudah tiga jam duduk di salah satu bangku di lorong ruang tunggu di stasiun ini. Tetapi tetap tidak ada tanda akan hadir Kereta Pembawa Pesan itu. Aku mulai bangkit dari dudukku dan bersiap menaiki kereta selanjutnya ke London.
            Dan terdengar suara jam antik dengan nyaring di atas menara di dekat pintu masuk stasiun. Suaranya nyaring sekali sampai memekakan telingaku. Anehnya, suasana stasiun berubah hening sekali. Sepi. Hanya ada aku dan hembusan angina yang berkabut. Membuatku merinding. Aku tertegun takut.
            Dikejauhan, kudengar suara kereta api yang kuno. Kereta api uap yang memiliki suara nyaring saat roda-roda keretanya bergerak akibat uap air yang menekan piston, yaitu mesin pompa. Aku lalu menoleh ke belakang, tepat sumber suara berasal. Mocong kereta yang begitu kuno, dengan cerobong asap di samping yang begitu khas berjalan mendekat padaku. Warnanya memang biru dengan motif bunga di sepanjang badan kereta. Panjang keretanya sama dengan kereta pada umumnya. Sesuai dengan apa yang artikel tuliskan. Kereta Pembawa Pesan itu benar-benar ada, dan sekarang berada di depan mataku.
            Kereta itu terhenti. Aku masih berdiri mematung dengan kedua mata terbelalak. Masih tercengang, mulutku menganga karena kereta yang dibilang mitos itu, kini berhenti dengan gagah di depan mataku. Aku menggenggam erat surat di tangan kananku.
            Dengan langkah yang pelan-pelan, jantung yang berdebar, dan rasa cemas yang menggebu-gebu aku mendekati kereta itu. Aku masuk dengan perlahan, celingak-celinguk seperti maling yang masuk ke dalam rumah korbannya. Suasana di dalam kereta begitu sepi sekali.
            Lalu terdengar dobrakan pintu. Pintu kereta terbuka sendiri di depanku, dan aku melihat segunung surat-surat di dalamnya. Membuat mataku terbelalak. Segunung surat-surat itu memenuhi ruang di dalam kereta.
            “Ha!” suatu suara terdengar. Ada sosok mungil yang muncul dari tumpukan surat-surat tersebut. Sosok tersebut begitu mungil, wajahnya juga sangat tua dan keriput. Rambut pirang pasirnya bergelombang dan ditutupi dengan topi. Kepalanya miring ke kanan, “Siapa kau, Nona?” sambil mengamatiku dengan seksama.
            Aku terkejut, “Ka-kau melihatku?”
            “Ya! Aku punya dua mata, Nona.” Suara cemprengnya begitu nyaring. Kedua matanya menyipit, “harusnya aku yang bertanya. Kau bisa melihatku?”
            Aku menganggukan kepala dengan cepat, “Tentu saja. Siapa kau?”
            sosok itu langsung keluar dari tumpukan surat, dan melangkah cepat mendekatiku. Kepalanya mendongak ke atas, tubuhnya begitu mungil dan kecil sekali. Aku sampai harus membungkuk.
            “Hanya orang-orang yang punya pesan yang bisa melihatku. Apa kau punya pesan untuk dikirim, Nona?” suara cemprengnya kembali terdengar nyaring.
            “Ya. Ada,” sahutku dengan cepat. “Tapi, siapa kau, Madam?”
            “Panggil saja aku, Nyonya Paper – kertas.” Ia masih mendongak, dengan kedua mata yang menyipit. Aku masih mengamati sosoknya yang begitu mungil itu, tetapi gerakannya lincah dan begitu cepat.
            “Makhluk apa kau? Apa kereta ini benar-benar nyata?”
            Salah satu dudut mulutnya miring ke atas, “Aku Peri Pembawa Pesan. Tidak pernah dengar ya? Siapa saja yang ingin pesannya tersampaikan segera mungkin, maka aku akan datang. Kuncinya adalah sebuah harapan.”
            Mulutku membulat, “Oh.”
            Tangan mungilnya menjulur kepadaku, “Mana suratmu, Nona?”
            Lalu dengan segera aku memberikan suratku. Suratku yang terlihat seperti kertas raksasa di tangan mungilnya, di genggam erat-erat olehnya.
            “Ini akan dikirim ke Wales?” Ia bertanya sambil mengamati suratku.
            “Ya,” jawabku cepat, “Kapan pesannya bisa sampai oleh yang kutuju, Madam?”
            Ia melirik padaku, dengan sinis, “Wales itu dekat. Sehari juga bisa. Apalagi aku pakai kereta. Gampanglah.”
            Aku  menyunggingkan senyuman, “Syukurlah.”
            Lalu tangan kanannya menjulur lagi padaku. Aku mengernyitkan dahi, “Apalagi, Madam?”
            “Kau kira keretaku tidak butuh biaya? Mengirim pesan walau dengan peri sekalipun juga ada ongkosnya. Bayar.”
            Aku tercengang, kukira apa yang dilakukan oleh Peri Pembawa Pesan adalah pekerjaan sukarela saja. Tidak terpikirkan bahwa akan ada ongkosnya. “Berapa, Madam?”
            Tangan kiri Peri Pembawa Pesan itu menyentuh dagunya, “Hmm,” ia berseru datar. “Dua shilling saja. Kau punya kan?”
            Aku merogoh kantongku untuk mencari recehan shilling, tapi tidak ada. Lalu aku mengambil dompet. Kulihat di dalam dompet juga tidak ada recehan. Aku jadi kebingungan. Tidak bisa membayar ongkos pesanku.
            “Aku hanya punya dua penny saja, bagaimana?” tawarku. Harganya jauh lebih murah daripada dua shilling. Wajah peri mungil itu mengkerut.
            Dengan cepat dia mengambil uangku, “Ya sudah. Daripada tidak ada uang.” Dan dia mulai menghitung.
            Aku masih memperhatikannya, “Lalu kapan aku bisa mendapatkan surat balasannya?”
            “Ah, kau manusia cerewet sekali.” Ia memasukkan uang recehan itu ke kantongnya. Aku tidak tahu bagaimana bisa uang yang terlihat besar di tangan mungilnya itu, bisa masuk ke dalam kantong roknya yang sempit. Ia memiringkan kepalanya dan memandang ke arah luar kereta, “kau lihat di sana ada kotak surat kan?”
            Aku menoleh, “Ya.”
            “Kotak itu akan terlihat jika keretaku datang. Jika pengirim surat yang kau tuju membalasnya, maka surat untukmu akan keluar dengan sendirinya.” Ia menjelaskan.
            “Bagaimana jika tidak ada surat balasan untukku?”
            Wajah mungil peri itu memandangiku dengan dalam, “Ya jelas tidak akan ada surat untukmu. Suratnya tidak akan keluar, Nona.”
            Aku menganggukkan kepalaku. Peri Pembawa Pesan tersebut masih mengoceh sendirian. Dia berjalan dengan pelan ke tumpukkan surat-surat yang sebelumnya dia berasal. Lalu melempar suratku ke kantong surat yang harus dikirim.
            “… Surat-surat ini hanya sampah. Sayang tidak bisa dijadikan uang, karena pengirimnya tidak mau menerimanya. Sudah ditolak masih saja mengirim surat. Dasar wanita, terlalu bodoh dan naïf sekali. Ha!”
            Aku tergelak mendengar ocehannya sambil mengikuti gerakan peri mungil itu. Ternyata itu tumpukan surat yang tidak diterima oleh orang yang dituju. Kasihan sekali. Aku jadi membayangkan diriku. Bagaimana nasib suratku nantinya. Aku jadi mulai was-was.
            Peri itu melihat ke arahku, “Masih ada yang kau perlukan lagi, Nona?”
            Aku tergelak. Dengan sigap aku langsung berdiri tegap dan kedua mataku kembali memandang lurus, “Tidak ada, Madam.”
            “Kalau begitu pergilah. Aku harus segera pergi, kalau kau mau pesanmu segera sampai tujuan, hah.” Peri itu mengoceh dengan sikap yang mencemoohkan diriku. Tetapi dia benar, jika aku tidak segera pergi bagaimana keretanya akan melaju. Lalu aku keluar dari kereta segera mungkin.
            “Oh ya,” seruku setelah turun dari kereta, “Kapan aku bisa tahu suratku ada balasannya atau tidak?”
            Suara mesin uap kereta sudah terdengar. Nyaring. Roda-roda kereta juga sudah siap bergerak dengan cepat, “Kau datang saja ke sini setiap hari. Tepat saat matahari mulai naik. Itu juga kalau kau beruntung, Nona. Tapi maksimalnya, jika dalam waktu seminggu kereta tidak datang maka kau tidak dapat balasan, Nona.” Dan kereta itu sudah menghilang begitu pula dengan suara Peri Pembawa Pesan. Wajahku mulai tertunduk lunglai.
                                         v 
            Seminggu sudah berlalu. Aku sudah bersiap-siap menuju Birmingham. Dengan semangat yang menggebu, harapan besar akan balasan suratku, aku berangkat dari London pagi-pagi sekali. Aku tahu, Kereta Pembawa Pesan akan datang di tengah hari. Tetapi aku sangat ingin datang lebih cepat.
            Sambil menunggu kereta, aku mencoba mengingat-ingat isi surat yang sudah lama kutulis itu. Seseorang datang melamarku. Sedangkan hatiku sudah tertambat pada Anthony. Aku dan Anthony sudah berjanji akan menikah tahun depan. Jadi, kukirimkan surat pada Anthony untuk mempertanyakan, apakah janji itu masih ada? Ataukah dia membiarkan aku menikahi seorang pria yang datang jauh dari Skotlandia dan dia adalah teman masa kecilku.
            Aku sangat ingin tahu balasan dari Anthony. Aku berharap Anthony tetap berpegangan pada janji kami. Tetapi, aku juga sedikit ragu. Di surat terakhirnya, Anthony berkata mulai meragukan hubungan kami. Aku terlalu menuntut, baginya. Aku tidak bisa mengikuti arah pekerjaan Anthony yang berpindah-pindah. Aku ingin menetap di London. Aku sedih saat membaca surat terakhirnya, dia pun merelakan diriku jika memang ada yang siap menikahiku dalam waktu dekat. Aku seperti sudah mendapatkan jawaban, tetapi masih keras kepala memohon untuk dipertahankan.
            Ya, aku terlalu bodoh untuk mengharapkan Anthony. Seperti hari ini. Bahkan saat matahari sudah mulai turun, kereta tidak juga datang. Aku sudah seharian menunggu di rel kereta Birmingham. Berharap, Kereta Pembawa Pesan akan membawa surat balasan untukku. Ternyata benar dugaanku, bahwa Anthony sudah merelakanku untuk orang lain.
            Aku meninggalkan stasiun pada malam hari. Masih berharap, namun tetap saja harapan itu tidak ada lagi untukku.


Cerpen ini ditulis oleh Dania Sunshine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar