... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ...

Selasa, 10 September 2013

Penerang Hidup

DJ'aMall Muhammad's photo.
Gambar untuk ide cerita
Kamis, Mei 2012.

Jam 10 pagi Viosi sedang bertegur sapa dengan temannya di twitter, sesaat kemudian dia tenggelam di timeline, cuaca pagi cukup cerah di kota kecil yang letaknya berdekatan dengan jogja. Dia habiskan waktunya untuk melepas lelah dengan membaca tweet teman-temannya. Dia membentangka kakinya ke kursi kemudian meminum teh hangat yang baru saja dibuatnya. Dagangannya pagi itu cukup laris, sehingga dia bisa pulang lebih cepat dari biasanya.

Masih hanyut tenggelam dalam lautan kata-kata di timeline, matanya tertuju pada retweet dari akun teman.

@SedekahBerbagi: Adik kita ini menderita tumor tulang lengan dari Kulon Progo. Dia saat ini berada di Rumah Sakit.

@SedekahBerbagi: Di butuhkan relawan untuk membantu menemani dan mengurus adik ini. mohon hubungi nomer 084321xxxx.

Hatinya tersentuh, nafasnya sedikit sesak, wajahnya berlinang air mata. Entah mengapa ini bisa dia rasakan ketika melihat foto anak itu, penyakit ganas menyerah anak yang belum baligh. Yang jelas saat itu dia jatuh dalam kesedihan. Jam menunjukan pukul sepuluh pagi, Viosi memutuskan untuk ikut membantu.
***


Semua urusannya di rumah sudah beres, seusai salat dzuhur dia berangkat menuju Rumah sakit, tempat di mana adik itu dirawat. Dengan persiapan apa adanya, minim pengetahuannya tentang apa yang sedang dia jalani saat itu, karna baru beberapa jam saja dia tenggelam dalam gerakan Sedekah Berbagi. Koordinasi dia lakukan hanya lewat mention di twitter dan telephone, sama sekali belum tahu yang diajak telphone-an dan mention itu wajahnya seperti apa dan latar belakangnya bagaimana. Siang itu dia sampai di Rumah sakit, hanya berbekal nama dan ruang inap pasien. Sampai di ruang inap tersebut ternyata pasien tidak ada di tempat. Panik melanda dirinya, yang ditelephone dan mention tadi tidak menjawab-jawab.

Di tengah kebingungannya (karna belum tahu #SedekahHappy itu apa), dia berinisiatif menghubungi pusat informasi atas nama pribadi.

“Permisi suster, pasien bernama Agus yang dari kulon progo di rawat di ruang apa ya? Dia menderita tumor.”

“Sebentar saya carikan dahulu.” Sedikit menenangkan diri dia melihat-lihat keadaan sekitarnya. Orang-orang lalu lalang semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Pasien tersebut sudah dipindahkan ke ruang isolasi mbak.”

Tidak perlu berlama-lama di sana, setelah mengucapkan terima kasih pada suster tersebut dia langsung menuju ruangan tempat di mana pasien itu dirawat, sampai di depan pintu dia bertemu dengan bapak dari sang anak yang menderita tumor tersebut. Dia memperkenalkan dirinya, sang bapak bercerita banyak tentang kondisi anaknya yang semakin hari semakin parah. Raut wajahnya seketika berubah, genangan air mata jatuh di tebing pipinya. Tergambar jelas rasa yang kini melanda hatinya. Viosi coba menenangkan sang bapak dengan coba menghiburnya.

“Tadi bapak di suruh ke bagian informasi, ada yang ingin diberi tahu katanya, dek. Bapak kesana dulu ya.” Bapak tersebut mengusap air mata yang masih jatuh di sekitar daun matanya.

“Mari saya temani pak.”

Sesampainya di pusat informasi, mereka diminta ke bagian Petugas Sosial Medik, dan (lagi) pada saat itu dia masih tidak tahu sama sekali tentang gerakan yang kini dia ikuti, pola geraknya seperti apa? kebijakannya bagaimana?. Dengan percaya diri dia dan bapak dari pasien itu mengunjungi kantor petugas sosial medik, ternyata yang dipermasalahkan adalah uang perawatan pasien.

Ketika Viosi bertanya tentang pasien, petugas tersebut langsung menanyakan tentang biaya pengobatan dan biaya inap pasien. Siapa yang akan membayar? Dan kapan akan dibayar?. Kemarin setelah dikunjungi kurir Sedekah Berbagi, keluarga pasien lupa ditinggalkan nomer telephone kurir.

Kembali ditanya ulang oleh petugas. “Biaya perawatan pasien bagaimana, pak?” bapak dari pasien itu hanya bisa diam tidak bisa menjawab sedikitpun. Berkali-kali pertanyaan itu diulang.

“BIAYA PERAWATAN PASIEN BAGAIMANA, PAK? SIAPA YANG MAU MEMBAYAR?” Bapak itu dibentak-bentak oleh petugas petugas. Bertingkah seolah-olah pemilik rumah sakit, petugas itu marah-marah tak jelas.

(lagi dan entah sudah berapa kali) Panik kembali melanda dirinya, bingung, jurus apa yang pas untuk menjawab pertanyaan petugas tersebut, ini adalah pertama kalinya dia mengalami kejadian yang membuatnya terbengong-bengong. Ide apa yang bisa di keluarkankan pada saat-saat seperti ini? berada di dalam tekanan dia memakai jurus terakhir yaitu dengan memasang tampang polos dan hanya mendengarkan, menampung informasi dari ibu-ibu petugas.

“Pokoknya kami tunggu secepatnya. Kalau tidak silakan tinggalkan rumah sakit ini!!!”
***

Mas Surya dan mas Nanang, kedua orang yang sedarit adi sulit sekali dihubungi kini sudah bisa ditelephone, namun Viosi hanya menyapanya sebentar lalu pamit dan menutupnya untuk menunaikan ibadah salat. Seusai salat, dia telphone kembali. Mas Surya memberi kabar kalau mereka sudah ada di depan Rumah Sakit.

“Saya jemput yang mau bayarin pengobatan pasien, dulu bu. Bapak tunggu sini saja ya,”
Bertemulah dia dengan Mas Surya dan Mas Nanang, orang yang pada saat itu baru dia lihat, baru dia kenal, dan baru interaksi secara langsung. Diperjalanan menuju kantor tersebut Viosi menceritanya semuanya dari A-Z info yang dia terima dalam posisi bingung tadi.

"Rapopo Vi, ini sekalian ospek buatmu. Kita sikat bareng itu petugasnya,” kata mas Surya mengakhiri pembicaraan kami.

Sesampainya mereka di depan ibu petugas tadi. Mas Surya mengeluarkan dua buah Blackberry, satu IPad dan dompet, dan bilang ke petugasnya. "Bu, butuh berapa duit untuk merawat pasien? 20juta? 30juta? 50juta? Kita transfer sekarang!!! Tapi jangan sekali-sekali Ibu bentak-bentak itu keluarga pasien, Mereka sudah kesusahan karna sakit seperti itu, masih di bentak-bentak. Dzolim sekali Anda tak kala mengetahui dhuafa sakit tapi malah menambah beban mereka."

“Hmmmmm.” Viosi menelan ludahnya dan menghela napasnya cukup panjang. Perasaannya saat itu bercampur antara kaget dan takjub.

“Ternyata ada orang yang berani langsung berkata keras seperti itu saat orang lain salah.” Gumamnya dalam hati.

Semua proses berjalan cepat, mungkin jika mas Surya tak datang, keluarga pasien sudah pergi meninggalkan Rumah sakit, Allah yang maha memberikan pertolongan. Kemudian dibuatkan surat perjanjian bahwa tim Sedekah Berbagilah yang akan menanggung semua biaya Rumah sakit. Lalu mereka melanjutkan perjalanan, mengunjungi dokter yang menangani pasien, untuk konsultasi.

“Kondisi pasien sudah tidak memungkinkan untuk amputasi lengannya pak, karna tumor sudah menyebar ke paru-paru.” Kata pak Dokter.

Akhirnya keluarga dan para kurir hanya berani mengambil jalan untuk memberinya pengobatan terbaik semampunya. Usaha yang dilakukan hanya upaya kemanusiaan (menuruti apa kemauannya pasien, dll).

"Sombong pada orang yang Sombong itu hukumnya wajib! biar dia tahu kita sombong tapi gak lepas tangan." Ucap mas Surya pada Viosi, seolah menegaskan sikapnya tadi pada petugas yang sombong.

Mereka berbicang-bincang di ruang tunggu pasien, berbagi cerita di tengah duka untuk melepas sedikit urat tegang. Obral mereka dihentikan oleh waktu yang sudah mulai larut malam, kebersamaan mereka di akhiri dengan jabat tangan kepada keluarga pasien dan pasiennya sendiri. Mas Surya dan mas Nanang pamit, dan tinggalah Viosi yang ditugasi untuk pantau penuh kondisi pasien.
***

Viosi mulai akrab dengan keluarga pasien, yang tadinya bukan siapa-siapa, tidak saling kenal, kini menjadi keluarga baru dalam hidupnya. Tiga hari Viosi lalui sendirian membantu keperluan pasien dan keluarganya tentu dengan bantuan dukungan doa dan dana dari kurir-kurir lain yang sedang membantu pasien-pasien di kota lain. Hari ke empat Viosi menggandeng teman untuk menemaninya sekaligus diajak nyebur ke Sedekah Berbagi. Sebelum berangkat ke Rumah sakit Viosi selalu menyempatkan membawa makanan untuk keluarga pasien, dan susu buat pasien yang kadang suka kepingin.

Hari ke lima di pagi hari, Viosi kembali mengunjungi pasien. Keadaannya masih cukup baik, bisa tertawa dan bisa ngobrol dengan bapak serta keluarganya. Menjelang siang dia pamit pulang. Cepat ya, waktu memang begitu cepat berlalu, jam 3 sore Viosi ditelpon bapaknya pasien.

“Nak, Anto sudah tidak sadarkan diri dan juga sudah tidak bergerak, dokter mennyarankan untuk di bawa ke ICU.”

“Ya sudah pak, bawa saja. Saya akan segera ke sana.”

Viosi langsung meluncur balik ke Rumah Sakit untuk menemani pemindahan pasien ke ICU. Pasien sudah dipasangi oksigen dan pendeteksi detak jantung, dari sore sampai jam 9 malem Viosi menemeni keluarga pasien di sana, melihat ketegaran seorang ayah menunggui putranya yang terbaring koma. Jam 10 malam Viosi pamit untuk pulang ke rumah dan meninggalkan pesan kepada keluarga pasien, “jika ada masalah langsung telephone saja, tidak usah sungkan.” Perasaan Viosi sudah tidak enak saat itu.

Sampe di rumah, hanya selang beberapa jam dia ditelpon bapak dari pasien. “Nak,” Terdengar suara tangisan di ujung telephone, “Anto…”

“Anto kenapa, pak?”

“…”

“Halo… Halo… Halo pak?”

“Anto sudah kembali kepadaNya.” Nafasnya tidak teratur, suara isak tangis tumpah di ujung telephone.

“Maksud bapak?”

“Anto, meninggal dunia, nak.”

“Inalillahi Wa’inailahi Rajiun.”

Jam 2 dini hari Viosi menuju Rumah Sakit sendirian, untuk menemui bapak almarhum dan mengurus administrasi kepulangannya, sewa jenazah dan segala persiapan kepulangan almarhum ke Kulon Progo, Tepat jam 4 subuh semuanya beres, ambulan siap mengantar, semua biaya RS sudah lunas dan sudah siap jalan ke Kulon Progo.
Bapak dan paklik almarhum pamitan untuk pulang ke kampungnya, lagi-lagi Viosi melihat ketegaran seorang ayah yang menggotong jenazah putranya ke ambulan (Dulu lahir digendong, sekarang meninggal duluan pun digendong).

Viosi hanya bisa mengantar sampai depan Rumah sakit, hanya lantunan do'a dari Solo yang terkirimkan. Keluarga barunya untuk beberapa hari ini telah pergi, dia ingin sekali ikut menghartar sampai ke kampong halamannya, namun apa daya, masih ada Anto-anto lain yang membutuhkan tenaganya, jogja sudah siap menyambut kepulangan jenazah. Viosi pun melanjutkan tugasnya untuk menemani pasien lain yang ada di moewardi.

“Anto, kamu anak yang ceria, ganteng, pintar, tegar dan kuat. Semua sedih akan kepergianmu. Tuhan menyayangimu dek. Lantunan doa dan al-fatihah akan selalu kakak kirimkan untukmu serta keluargamu. Selamat jalan, semoga kamu tenang.”

“Hidup adalah anugerah. Sehat adalah nikmat. Mari bersyukur. Mari peduli.”

“Gak penting kita gak terkenal, yang penting membantu sesama dengan terus bergerak, mencari dhuafa yang membutuhkan, menjadi kurir yang kedatangannya bisa menghapus air mata duka mereka, Itu adalah kenikmatan dan syukur tersendiri, rasanya kangen kalau lama tidak blusukan (masuk, pada suatu tempat cenderung jarang dikunjungi atau tidak disukai untuk didatangi kebanyakan orang) mencari dhuafa yang membutuhkan, saya yang butuh blusukan, karna ada perasaan bahagia ketika melakukan itu. Tiap duka yang kita rasakan insya Allah diganti berlipat-lipat nikmat sama Allah.” Air mata Viosi tumpah membasahi tebing-tebing pipinya, lalu di hapus oleh senyuman meneduhkan hati.

Jikalau tidak bisa menjadi bulan yang dapat menerangi isi bumi di malam hari, setidaknya kita bisa menjadi lampu yang menerangi isi rumah. Menjadi cahaya bagi sebanyak mungkin orang mungkin sulit. Tapi setidaknya kita dapat berbagi cahaya dengan mereka yang membutuhkan. Karna berbagi tak pernah tidak menyenangkan yang pasti sangat menyenangkan.



*Inspirasi dari kisah salah satu kurir #SedekahRombongan
Cerpen ini ditulis oleh Djamall

Tidak ada komentar:

Posting Komentar