... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ... Selamat datang di blog GenkBooks, Selamat menikmati karya-karya kami ...

Selasa, 10 September 2013

Hiduplah Sehidup-hidupnya

Putri Anak Darman's photo.
Gambar untuk ide cerpen

“Apa hubungannya?” Tepat disaat pertanyaan ini memenuhi pikiranmu, jangan buru-buru mencari jawabannya sama saat ketika kamu sedang duduk di bangku kuliah semester akhir dan harus menyelesaikan tugas akhir sebelum dinyatakan berhak ikut sidang, yudisium, wisuda, (kerja) dan nikah.
            Sayangnya, ada perbedaan sedikit antara menyelesaikan tugas akhir dengan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan pertanyaan “Apa Hubungannya?”  Karena   saat menyelesaikan tugas akhir kamu tidak patut bertanya “apa hubungannya?” ke dosen pembimbing karena dalam masa ini doping diatas segalanya, Dia yang menentukan kamu berhak ikutan sidang dan lanjut yudisium hingga wisuda, tentu saja tidak dengan menikah, itu hak kamu sepenuhnya, dan nafsumu terutama. Jadi jangan membantah perkataan doping.
            “Halo, nama saya Fathia. Nama panggilan Fathia” Aku memperkenalkan diri sesingkat yang kubisa, aku merasakan  beberapa pasang mata menatap serius ke arahku. Mata para lelaki seperti sedang melihat rendang. “Hai Fathia...” seseorang disebelahku menyapa sambil tersenyum. Aku membalas dengan senyuman. Perkenalan berlanjut ke manusia yang lainnya.
            Aku memesan teh manis lagi, sudah waktunya menambah gelas kedua, haus betul hari ini. Tadi, saat pergi ke acara buka bersama bareng komunitas smartphone ini aku berjalan kaki dari persimpangan yang lumayan jauh. Dan aku meneguk gelas kedua, “Am, aku mau teh manis lagi ya!” Orang yang kupanggil mengambil gelasku. Kali ini ada yang beda dengan teh manis ketigaku. Bukan isinya melainkan gelasnya. Gelasnya diganti dengan gelas baru, mungkin karena gelas sebelumnya telah kotor dipenuhi bau mulutku yang sedang berpuasa atau mungkin pecah saat Aam mengambil teh manis ketigaku? Tapi aku tidak mendengar ramai bunyi pecahan gelas. Apa yang terjadi?
            “Gelasnya kok ganti Am?” aku menerima gelas baru dengan mimik muka yang datar.
“Udahlah ko minum aja, udah untung teh manisnya belum habis”
Rasa penasaranku terabaikan. Sebagai cewek cantik dan polos di komunitas ini aku cuma tersenyum sinis dan meminum teh manis ketigaku. Hei! Ada yang berbeda lagi dari teh manis ketigaku dengan teh manis kedua sebelumnya! Aku tertegun menghentikan aksi minum eleganku. Aku mengamati gelas teman lainnya yang memesan teh manis juga. Dan benar, aku benar! Teh manis ketigaku berbeda dengan yang lainnya. Teh manis ketiga ini dibuatkan khusus untukku. Khusus!
            Alih-alih takut bertanya lagi aku cuma mengamati, mengamati teh manis ketigaku. Lebih kental dari teh sebelumnya dan ini teh manis baru yang hanya dibuatkan khusus untuk gelas ini. Untuk peminumnya. Karena masih ada ampas teh dengan tali sebuah merk teh ternama di Indonesia. Manis. Aku teguk sekali lagi lalu membiarkannya dingin. “Nasi goreng seafood” Pelayan menghampiri meja kami. “Disini Kak, seru abang berkacamata didepanku” sambil menoleh dia melanjutkan “Fathia tadi pesan nasi goreng seafood kan?”. “Eh iya bang” jawabku singkat.
***

            “Kakak dulu suka nge-bully Itty!” suaraku melengking.
“Apa itu bully Put? Sergah kakak keduaku acuh sambil makan. Sebagai seorang adik yang mempunyai lebih dari 4 akun sosial media aku merasa gagal.
            “Semacam suka nyiksa gitu dek” kakak pertama menyahut singkat.
Kakak kedua menghentikan proses mengunyah di mulutnya. Aku yakin, kunyahannya tidak sampai 10 kali, “Ih... gak ada aku suka bully ya, bohong aja kerjamu” iramanya seperti penyanyi seriosa. Semakin nyaring “Mulut kau ya Put! Kapan aku pernah nyiksa kau? Gak pernah ay!” aku terkekeh, kakak pertama dan Mama  senyum-senyum. “Kapan? Dulu pas tahun ’98, pas Itty masih TK, pas krisis moneter, kakak suruh  ngumpet dibalik lemari kan?” aku menirukan gaya kakakku “Put, pergi kau ke balik lemari di kamar, katanya orang yang punya mata sipit itu pasti anak cina, kau pasti dikejar! Kau pasti ditangkap!” Tawa Mama dan Kakak Pertama pecah, disusul kakak kedua ikutan tertawa.
            Sebenarnya aku lupa apa yang diucapkan kakak keduaku di ’98 silam, ’98 kelabu. Tapi sejak peristiwa itu, 15 tahun lalu, Mama selalu menceritakan hal ini jika berbicara tentang suku cina, dan selalu saja jadi bahan lucuan untuk lawan bicara Mama. “Mama disitu habis dari (aku lupa Mama bilang habis dari mana). Mama cari-cari kak Putri di rumah Tari (tetangga) gak ada, cari dikamar mandi gak ada. Pas nanyak sama Adek (kakak keduaku disapa adek dirumah) langsung lihat samping lemari, udah ketiduran ternyata” Tawa kembali pecah.
            “Kau pun mau kali aku bodohin. Hahahaa” umbar kakak kedua. “Namanya masih anak kecil!” sergahku.
            Kata mereka keluarga itu diatas segalanya. Kecuali saat kamu duduk di bangku akhir perguruan tinggi. Tetap dopinglah segalanya. Jika aku dikasih pilihan untuk meminta keluarga baru, tentulah aku akan memilih keluarga ini kembali. Walau sering di-bully di masa kecil. Sering dicap ‘aneh’ dan autis jika sudah dikamar sendirian bernyanyi dengan suara gak jelas. Walau sering dipanggil amoy(awalnya aku memberontak,dan setelah dijelasin kakak sepupu kalau arti amoy ialah cantik. Aku berhenti merengek) di sekitar rumah. Aku tetap tidak akan memilih keluarga baru. Tidak akan-kecuali jika aku sudah menikah. Aku meneguk teh hangatku sore itu. J
***
            “Aku tidak pernah ke makam Ayah, Genks.” Aku tertegun menulis rangkaian kata ini. Jarang sekali aku berbicara frontal di ‘keluarga’ yang baru kukenal. Tapi aku sudah menganggap mereka keluarga walau baru beberapa bulan dipertemukan di ruang obrol bernama Whatsapp. Walau ada sebagian anggota belum pernah kutemui wujudnya secara langsung. Apakah anggota keluarga baruku cantik atau ganteng, apakah mereka benar-benar nyata, apakah mereka sekedar membual diruang obrol ini. Mungkin saja yang diujung Sumatera sana paling cantik tapi bodoh, atau seseorang yang aku panggil Mama di kota Lumpia yang selalu berkomunikasi tidak hanya di ruang obrol bisa saja tidak suka jika aku mulai menghampirinya diwadah rahasia lain untuk curhat. Siapa yang tahu wujud asli manusia? Wujud asli manusia itu bukan dari fisik melainkan hati.
            Tapi persetan dengan pikiran negatif ini. Aku mempercayai mereka. Aku bagian dari mereka. Mereka keluargaku. Aku meneguk teh hangat buatanku sendiri malam ini sambil menerima ucapan semangat dari mereka. Ntah tulus atau tidak.
***
            Mama berteriak dari dapur “Woy amooooooooyyy, udah malam jangan nyanyi-nyanyi lagi!!” aku pura-pura tidak mendengar ultimatum Mama, jempolku bergerak cepat memperbesar suara ponsel. “Inilah akhirnya harus ku akui~ sebelum cintaaamuuu semaakiinn daalaaammm...” Mama membuang ampas teh dari gelas yang ku minum disore itu dan langsung mencuci gelasnya.
            Hidup itu tidak semanis madu. Hidup itu seperti membersihkan lubang hidung. Dalam membersihkan lubang hidung ketika kau yakin sudah tidak ada upil lagi, sebenarnya upil itu masih ada, tidak ada habis-habisnya dikemudian hari. Tidak akan pernah bersih. Kau yakin telah bersih membersihkannya pun belum tentu sudah bersih. Karena tanganmu terlalu besar mencapai upil tersudut didalam hidung. Jika terlalu memaksa, mungkin saja lubang hidungmu akan terlihat menjadi lebih besar dari biasanya. Namun ada rasa janggal jika kau tidak memaksanya keluar. Ada saatnya kau harus mengabaikan pesan yang seharusnya kau patuhi. Ada saatnya kau tidak harus mempercayai orang baru, ada saatnya kau harus menumpahkan isi hati kepada orang yang tepat dan ada saatnya kau harus bertanya dalam diam menemukan jawaban sendiri.
            Namun, hiduplah sehidup-hidupnya. Sehangat teh manis ketigamu yang akan dingin jika tidak kau habiskan segera. Sehangat ceritamu yang bisa membuat suasana menjadi bahagia. sehangat kepercayaanmu kepada orang-orang  baru dalam hidupmu dan sehangat ultimatum yang harus kau patuhi. Habiskan segera sebelum menjadi dingin, sebelum kau menyesal dan bertanya “Mengapa tidak kulakukan hal ini dari dulu?”


Cerpen ini ditulis oleh  Fathia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar